"Agak cepetan, Om. Lala udah telat lima belas menit!"
Alana sedikit menaikkan volume suaranya di tengah gemuruh angin dan sahutan ramai bunyi kendaraan lain. Mengetahui jam bimbingan belajar sudah dimulai, batinnya pun cemas tidak karuan. Sementara Yudha tetap konsisten dengan tarikan gas tanpa minat menambah kecepatan. Karena menurutnya, keselamatan mereka paling utama.
"Gantian Lala aja deh yang di depan kalo Om nggak berani ngebut!" seru Alana lagi. Rasa gemas dan kesalnya berbaur meletup-letup.
Dari ujung mata Yudha melirik malas. Sedikit geram membayangkan keponakannya itu berani kebut-kebutan di jalan. Tersentil juga nyalinya mendengar perkataan yang seakan meremehkan kemampuannya dalam berkendara. Meski begitu, Yudha berusaha mempertahankan laju garis merah yang mengarah di angka empat puluh pada spidometer.
Hingga tibalah mereka di pelataran gedung tempat bimbingan, Alana langsung turun dan menyampirkan helmnya dengan gerakan cepat. Baru saja akan berlari masuk ketika Yudha tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya. Meneliti wajah, dan mengusap ujung kepalanya guna merapikan anak rambut yang sedikit berantakan.
"Kamu yakin udah nggak kerasa sakit lagi perutnya?"
Alana merespons dengan anggukan cepat. "Udah nggak apa-apa, beneran. Udah ya, Om. Lala masuk dulu."
Yudha baru membuka mulut hendak bicara, tapi manusia yang diperhatikannya itu secepat kilat pergi begitu saja. "Nanti pulangnya hati-hati, jangan ngebut!" serunya kemudian.
Tanpa berbalik badan, Alana mengacungkan jempol tanda mengiyakan. Yudha geleng-geleng kepala. Kalau bukan karena rasa sayang pada si keponakan, dia tidak akan pasrah saja dibuat kewalahan seperti ini menghadapi tingkah kekanakannya. Bahkan kelakuan yang kerap muncul di luar perkiraan, mengharuskan Yudha untuk terbiasa. Meski endingnya tetap terkejut.
Seperti sekarang, saat dia tengah fokus pada ponsel untuk memesan ojek online, Alana tiba-tiba menampakkan diri kembali. Langkah kakinya yang menghentak cepat menciptakan deru napas tak beraturan.
Yudha mengernyit heran.
"Om—" Susah payah Alana mengatur napas. "Lala lupa bilang ... huft—"
"Napas dulu, Om tungguin," ucap Yudha mengamati sembari menyilangkan tangan.
Setelah beberapa detik, Alana lantas melanjutkan. "Maafin ucapan Ibu kemarin, ya. Lala harap Om nggak sedih, nggak marah, nggak dendam sama Ibu."
Yudha mendengkus geli, nyaris tertawa. Sudut bibirnya melempar senyum menenangkan. "Makasih udah khawatir sama Om. Tapi Om beneran nggak apa-apa. Nggak diambil hati juga, apalagi sampe dendam. Mana mungkin bisa Om kaya gitu." Tangan Yudha terangkat menyentuh pundak Alana. "Kamu nggak usah mikirin hal lain selain pelajaran. Udah sana, masuk. Udah telat. Belajar yang bener."
Bersamaan dengan itu, pengemudi ojek datang. Memaksa Yudha mengambil langkah untuk pergi. Berlalu meninggalkan Alana yang kemudian turut berbalik badan memutuskan kembali masuk kelas.
Gadis itu memposisikan diri, duduk di samping Karina setelah guru pembimbing mempersilakannya. Dia berbisik, "Maaf ya, kamu ke sininya harus cari taksi dulu gara-gara aku."
Karina mengulum senyum. "Nggak masalah. Btw, kamu bilang di chat katanya sakit perut, abis berobat?"
Alana menggeleng. "Abis ke rumah Om. Jangan bilang Ibu kalo aku ke sana dulu sampe telat masuk kelas, ya."
"Aman, tenang aja," tanggap Karina, "asal abis ini kamu nganterin aku ketemu Mamaku lagi, dan jangan kasih tau Papa."
Lagi?