Pernikahan, di zaman ini, sudah bukan lagi sekadar dua orang yang saling mencintai lalu memutuskan hidup bersama. Ia telah menjadi semacam ruang uji—diuji oleh gaji yang tak pernah cukup, oleh restu yang tak selalu utuh, oleh suara keluarga besar yang kadang lebih nyaring daripada suara hati sendiri. Di media sosial, kita membaca cerita perceraian yang datang begitu cepat setelah pernikahan yang tampak sempurna di foto-foto pranikahnya. Di sisi lain, semakin banyak orang memilih untuk tidak menikah sama sekali—bukan karena tak percaya cinta, tapi karena takut pada semua hal yang menyertainya.
Rumah Tangga Percobaan berangkat dari sebuah premis yang terdengar seperti eksperimen sosial: dua orang asing setuju untuk "menikah" selama seratus hari, demi sebuah riset. Tidak ada cinta di awal—hanya kontrak, aturan, dan rasa penasaran akademis. Tapi seratus hari ternyata cukup panjang untuk membuat batas antara akting dan kenyataan menjadi kabur. Cukup panjang untuk membuat tekanan-tekanan yang selama ini hanya kita dengar dari cerita orang lain—ekonomi, mertua, ekspektasi keluarga, rasa lelah yang tak terucap—tiba-tiba menjadi nyata dan harus dihadapi berdua.
Buku ini bukan tentang mencari jawaban apakah pernikahan itu layak diperjuangkan atau tidak. Buku ini adalah undangan untuk melihat lebih dekat: apa yang sebenarnya kita pertaruhkan, ketika kita memilih untuk terus tinggal bersama seseorang, hari demi hari, bahkan ketika semua alasan untuk pergi terasa jauh lebih mudah.
Selamat membaca, dan semoga di antara halaman-halamannya, kau menemukan sepotong dirimu sendiri.