Hari ke-100.
Di atas meja kayu yang sudah mulai retak di sudutnya, ada dua lembar kertas dan satu pulpen yang tintanya nyaris habis. Salah satu dari mereka menatap kertas itu lebih lama dari yang seharusnya—bukan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi karena untuk pertama kalinya sejak seratus hari lalu, ia benar-benar tidak yakin.
Di luar, hujan turun pelan, seperti enggan mengganggu apa pun yang sedang terjadi di dalam rumah itu. Rumah yang tiga bulan lalu masih terasa seperti kamar hotel—rapi, dingin, milik dua orang asing yang kebetulan tinggal di alamat yang sama. Sekarang, ada bekas kopi di atas meja yang tak pernah benar-benar hilang, ada sandal yang tertukar di depan pintu, ada aroma masakan yang sudah hafal di luar kepala siapa yang memasaknya.