Ruang tunggu Fakultas Ilmu Sosial itu dingin, bukan karena pendingin ruangannya menyala terlalu kencang, tapi karena tidak ada satu pun poster atau tanaman yang membuatnya terasa hidup. Hanya deretan kursi plastik berwarna abu-abu, meja resepsionis kosong, dan papan pengumuman yang temanya sudah tidak relevan sejak dua semester lalu. Bau kertas lama dan karbol lantai bercampur jadi satu, khas gedung fakultas yang lebih sering dilewati daripada didiami.
Ranti Wijaya duduk di kursi paling ujung, tas selempangnya ia dekap seperti perisai. Di tangannya ada map plastik bening berisi fotokopi KTP, kartu keluarga, dan surat keterangan sehat—semua persyaratan yang tertulis di email undangan yang ia baca berulang-ulang selama tiga hari terakhir, seolah membacanya lagi bisa mengubah isi keputusannya.
Program Simulasi Ketahanan Rumah Tangga: Studi Longitudinal 100 Hari.
Judulnya terdengar seperti proposal skripsi yang dipaksa jadi proyek penelitian nasional. Tapi angka di baris paling bawah email itulah yang membuat Ranti, yang biasanya akan menutup tab apa pun bertuliskan kata "penelitian" dan "sukarelawan" dalam satu kalimat, justru membalas dengan kesediaan ikut wawancara.
Seratus lima puluh juta rupiah. Dibayarkan penuh jika menyelesaikan seratus hari.
Ia sudah menghitungnya berkali-kali malam sebelumnya, di atas kalkulator ponsel, seolah angka itu bisa berubah jadi lebih kecil atau lebih besar tergantung berapa kali ia menjumlahkannya. Cukup untuk melunasi separuh utang bapaknya. Cukup untuk membuat ibunya berhenti menelepon dengan suara yang selalu terdengar seperti sedang menahan tangis di ujung kalimat.
"Ranti Wijaya?"
Seorang perempuan berkacamata dengan lanyard bertuliskan Tim Peneliti membuka pintu ruang seminar kecil di ujung koridor. Ranti berdiri, merapikan blus yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi, dan mengikuti langkah perempuan itu masuk.
Di dalam, ruangannya lebih hangat—ada dua sofa yang saling berhadapan, satu meja kaca, dan seorang pria yang sudah duduk lebih dulu di sofa sebelah kanan. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung sampai siku, kacamata bulat, dan ekspresi yang sulit dibaca antara gugup atau memang selalu terlihat seperti itu. Di pangkuannya ada map serupa dengan yang dibawa Ranti, tapi lebih tebal—seolah ia membawa lebih banyak dokumen daripada yang diminta.
"Silakan duduk," kata Prof. Herlina, kepala tim peneliti, sambil menunjuk sofa kosong di seberang pria itu. "Ranti, ini Dimas Prasetyo. Dimas, ini Ranti Wijaya. Kalian berdua yang lolos ke tahap final program ini, dari total delapan puluh tiga pendaftar."
Dimas mengangguk singkat, mengulurkan tangan. "Halo."
"Halo," jawab Ranti, menjabat tangan itu secukupnya—tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat.
Prof. Herlina membuka laptopnya, memutar layar agar keduanya bisa melihat slide pertama. "Saya akan ulangi poin-poin penting supaya tidak ada yang terlewat, walau saya tahu kalian berdua sudah membaca berkasnya berkali-kali."