Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #4

BAB 2 — Hari Pertama

Kompleks Graha Asri nomor 14 lebih kecil dari yang Ranti bayangkan, tapi cukup rapi untuk ukuran rumah subsidi riset universitas. Dua kamar tidur, satu ruang tengah yang merangkap ruang makan, dapur kecil dengan kompor dua tungku, dan halaman depan seukuran karpet yang ditumbuhi rumput liar setinggi mata kaki. Cat temboknya baru, warna krem pucat yang terlihat sengaja dipilih supaya netral—tidak terlalu mencolok untuk dihuni siapa pun.

Truk pindahan—yang sebenarnya hanya mobil bak terbuka yang disewa tim peneliti—sudah lebih dulu tiba ketika Ranti sampai dengan taksi daring, membawa dua koper dan satu kardus berisi buku-buku yang tidak pernah sempat ia baca ulang.

Dimas sudah ada di dalam, sedang menyusun kotak-kotaknya sendiri di sudut ruang tengah, dengan cara yang menurut Ranti sama sekali tidak sistematis: buku ditumpuk campur dengan kabel charger, satu sepatu tergeletak sendirian tanpa pasangannya, dan satu kotak besar bertuliskan "MISC" dengan spidol yang hampir habis tintanya.

"Kamar yang mana buatku?" tanya Ranti, berdiri di ambang pintu dengan koper di kedua tangan.

Dimas menoleh, sedikit gelagapan. "Oh—terserah, sih. Aku belum milih. Yang kanan lebih besar sedikit, tapi yang kiri lebih dekat kamar mandi."

"Aku ambil yang kiri," kata Ranti, tanpa menunggu diskusi lebih panjang, lalu berjalan melewatinya menuju kamar yang ia maksud.

Kamar itu kosong—hanya kasur single, lemari kayu kecil, dan jendela yang mengarah langsung ke pagar tetangga. Ranti meletakkan kopernya di atas kasur, duduk sebentar, menghela napas panjang yang sudah ia tahan sejak keluar dari gedung fakultas dua hari lalu. Ia menatap langit-langit yang masih bersih, belum ada bekas apa pun di sana, seperti halaman kosong yang menunggu diisi.

Sore itu, mereka berdua duduk di ruang tengah, mengelilingi selembar kertas yang ditulis tangan oleh Dimas—daftar "peraturan rumah tangga sementara" yang menurutnya perlu disepakati di awal, supaya tidak ada gesekan yang tidak perlu.

"Kamu suka bikin daftar begini?" tanya Ranti, setengah menyindir, setengah penasaran.

"Aku peneliti," jawab Dimas, seolah itu jawaban yang menjelaskan segalanya. "Kalau nggak ada kesepakatan di awal, biasanya yang berantakan duluan itu soal remeh-temeh: siapa cuci piring, siapa yang bayar listrik, siapa yang harus pura-pura mesra kalau ada tetangga lewat."

Ranti tidak bisa menahan senyum kecil mendengar poin terakhir itu. "Oke, kita mulai dari yang gampang dulu. Masak."

"Aku nggak bisa masak," kata Dimas, jujur tanpa beban. "Serius. Yang paling rumit yang bisa kubuat itu mi instan pakai telur."

"Berarti aku yang masak, kamu yang cuci piring," putus Ranti cepat, seperti sudah biasa mengambil keputusan sendiri tanpa banyak berunding.

Dimas mengangguk setuju, menuliskannya di kertas. "Soal kamar mandi—kamu duluan pagi atau aku?"

"Aku kerja lepas, jamnya fleksibel. Kamu?"

"Aku masih riset di kampus, biasanya harus sampai jam delapan."

"Kamu duluan," kata Ranti.

Lihat selengkapnya