Panggilan telepon dengan ibunya akhirnya terjadi tiga hari setelah pesan singkat itu, bukan karena Ranti sengaja menundanya, tapi karena setiap kali ia berniat menelepon, ada saja alasan untuk menunda lima menit lagi, lalu lima menit berikutnya, sampai akhirnya larut malam dan ia memutuskan besok saja.
Malam itu, Dimas sedang di kampus—jadwalnya memang sering pulang malam tiga hari dalam seminggu karena penelitian utamanya sendiri, di luar program simulasi ini—dan rumah terasa lebih lega untuk Ranti duduk di lantai kamar, punggung bersandar ke dipan, telepon menempel di telinga.
"Ranti, kapan kamu bisa transfer lagi? Bapak ditagih terus sama orang bank," suara ibunya terdengar lelah, jenis lelah yang sudah menahun, bukan lelah karena satu hari yang berat.
"Bulan depan, Bu. Aku lagi nunggu pencairan dari proyek baru," jawab Ranti, mengulang kalimat yang sudah ia ucapkan versi berbeda-beda selama delapan bulan terakhir.
Utang itu bermula dari usaha bengkel kecil bapaknya yang bangkrut dua tahun lalu, ditambah biaya rumah sakit ketika komplikasi diabetesnya kambuh parah tahun lalu. Angka yang awalnya terasa masih bisa dicicil pelan-pelan, membengkak karena bunga pinjaman dari "teman baik" bapaknya yang ternyata tidak sebaik itu. Ranti masih ingat malam ketika bapaknya menelepon pertama kali mengabarkan bengkelnya harus ditutup, suaranya bergetar berusaha terdengar biasa saja, seolah itu hanya kabar cuaca, bukan runtuhnya sesuatu yang dibangun sejak sebelum Ranti lahir.
Ranti, sebagai anak sulung, otomatis menjadi orang yang paling diharapkan untuk menyelesaikannya—bukan karena orang tuanya memaksa secara terang-terangan, tapi karena caranya menelepon selalu diakhiri dengan kalimat yang terasa seperti beban yang sengaja dititipkan pelan-pelan. Adiknya masih kuliah semester empat, belum bisa diharapkan menanggung apa pun selain biaya kuliahnya sendiri, dan bapaknya terlalu bangga untuk benar-benar mengakui betapa parah keadaan mereka di depan tetangga atau saudara yang lain.
Ranti masih ingat betul sore ketika ia pulang ke rumah orang tuanya dan mendapati bengkel yang biasanya berisik oleh suara kompresor dan obrolan pelanggan, tiba-tiba sunyi, gembok besar tergantung di pintu rolling door yang catnya mulai mengelupas. Bapaknya duduk di teras, tidak menangis, hanya diam menatap jalan, seperti sedang menghitung ulang seluruh hidupnya dalam kepala. Sejak hari itu, Ranti berhenti menganggap dirinya "masih muda dan bisa santai dulu"—setiap keputusan soal uang sejak saat itu selalu ditimbang dengan satu pertanyaan yang sama: apakah ini bisa membantu melunasi utang bapak lebih cepat.
Ia sempat kerja serabutan—menulis artikel lepas dengan bayaran murah, jadi admin toko daring paruh waktu, bahkan sempat dua bulan jadi kurir titipan kilat sebelum akhirnya kembali fokus ke pekerjaan menulis yang lebih stabil meski tetap tidak seberapa. Semua pekerjaan itu terasa seperti menambal kebocoran dengan lakban—cukup untuk menahan sementara, tapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah yang sebenarnya.
"Kamu di mana sekarang, sih? Kok nomor teleponnya beda sama biasanya kalau ditelepon lewat aplikasi?"
Ranti menahan napas sebentar. "Aku pindah kontrakan, Bu. Yang lama kemahalan."
Itu bukan sepenuhnya kebohongan—hanya bagian yang paling mudah dijelaskan tanpa harus masuk ke detail seperti "aku ikut program penelitian yang mengharuskan aku berpura-pura menikah dengan orang asing selama seratus hari demi uang seratus lima puluh juta". Kalimat itu, sepanjang apa pun ia coba susun ulang di kepalanya, tidak pernah terdengar masuk akal jika diucapkan pada ibunya sendiri. Ia membayangkan reaksi ibunya jika tahu yang sebenarnya—campuran kaget, khawatir, dan mungkin sedikit rasa bersalah karena anaknya harus sampai melakukan itu demi utang keluarga—dan memutuskan bahwa kebohongan kecil ini lebih ringan untuk ditanggung berdua.
Setelah telepon berakhir, Ranti duduk lama menatap layar ponselnya yang gelap, memikirkan bagaimana keputusan yang tampak begitu mudah ia jelaskan pada Prof. Herlina dan tim peneliti—"aku butuh uangnya"—ternyata jauh lebih rumit begitu harus dijelaskan pada orang yang benar-benar mengenalnya.
Pintu depan berbunyi. Dimas pulang, membawa kantong plastik berisi gorengan yang dibelinya di dekat halte bus.
"Masih bangun?" tanyanya, melihat Ranti masih duduk di ruang tengah dengan lampu setengah redup.