Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #6

BAB 4 — Separuh Jawaban

Wawancara mingguan pertama dijadwalkan di ruang kerja kecil yang disewa tim peneliti tidak jauh dari kompleks Graha Asri—bukan di kampus, katanya, supaya suasananya lebih santai dan jawaban yang keluar lebih jujur, bukan jawaban versi "wawancara formal".

Pagi itu, sebelum berangkat, Ranti sempat mematut diri lebih lama dari biasanya di depan cermin kecil kamarnya, memilih blus yang tidak terlalu formal tapi juga tidak terlalu santai—entah kenapa terasa penting untuk terlihat "meyakinkan" di depan tim peneliti, seolah penampilan bisa memengaruhi seberapa percaya mereka pada cerita yang akan diceritakan. Dimas menunggunya di ruang tengah, sudah rapi dengan kemeja yang disetrika asal-asalan, garis lipatannya masih terlihat di beberapa bagian.

"Nervous?" tanya Dimas, saat mereka berjalan bersisian menyusuri trotoar menuju lokasi wawancara.

"Dikit," aku Ranti. "Kamu?"

"Selalu, tiap ketemu Prof. Herlina," jawab Dimas, setengah bercanda, meski ada sesuatu di nada suaranya yang terdengar lebih dari sekadar gugup biasa menghadapi dosen pembimbing.

Yang mewawancarai bukan Prof. Herlina sendiri, melainkan asistennya, seorang mahasiswa magister bernama Fira yang membawa map berisi daftar pertanyaan dan alat perekam suara kecil yang diletakkan di tengah meja.

"Santai aja," kata Fira, mencoba mencairkan suasana yang sejak awal memang canggung. "Ini bukan ujian. Saya cuma mau dengar cerita minggu pertama kalian."

Pertanyaan-pertanyaan awal berjalan lancar—soal pembagian tugas rumah, soal bagaimana rasanya diperkenalkan sebagai pasangan menikah ke tetangga, soal apa yang paling mengejutkan dari tinggal bersama orang asing. Ranti dan Dimas menjawab bergantian, kadang saling menambahkan cerita satu sama lain seperti pasangan yang memang sudah lama saling kenal, meski keduanya tahu persis berapa hari sebenarnya mereka baru saling bicara.

"Kalau harus digambarkan satu kata, minggu pertama ini kayak apa?" tanya Fira di tengah sesi, mencoba mencairkan suasana sebelum masuk ke pertanyaan yang lebih berat.

"Canggung," jawab Ranti cepat, membuat Dimas tertawa kecil.

"Aku mau bilang 'penuh kejutan', tapi ya, canggung juga bener," tambah Dimas, disambut tawa kecil dari Fira yang mencatat sambil tersenyum.

Sampai Fira bertanya, "Kalau boleh tahu, apa alasan personal kalian masing-masing memutuskan ikut program ini? Bukan cuma soal dana penelitiannya."

Ranti menjawab lebih dulu, karena jujur soal utang keluarga terasa lebih mudah diucapkan kali kedua dibanding yang pertama. Fira mendengarkan sambil sesekali mencatat, wajahnya tidak menghakimi, hanya menganggukkan kepala di titik-titik tertentu.

Lihat selengkapnya