Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #7

BAB 5 — Uang dan Ruang

Minggu kedua membawa rutinitas yang mulai terasa wajar—bangun pagi, kopi bergantian, Dimas berangkat ke kampus, Ranti bekerja dari meja ruang tengah yang perlahan penuh oleh kertas catatan dan cangkir kopi yang lupa dicuci. Tapi kenyamanan itu tidak bertahan lama tanpa gesekan pertama yang cukup serius.

Semuanya berawal dari amplop dana operasional mingguan yang diserahkan tim peneliti setiap Senin—tiga ratus ribu rupiah untuk kebutuhan rumah tangga bersama, di luar dana pokok seratus lima puluh juta yang baru cair di akhir program. Sebagai pemegang kas, Ranti yang mengatur pengeluarannya.

Senin sore itu, Dimas pulang membawa dua buku tebal dan satu alat perekam suara baru, mengaku menggunakan sebagian dana mingguan untuk keperluan risetnya sendiri.

"Itu bukan buat kebutuhan rumah," kata Ranti, nadanya lebih tajam dari yang ia niatkan. "Itu dana buat listrik, galon, belanja dapur. Bukan buat perlengkapan tesismu."

"Aku cuma pinjam dulu, nanti aku ganti dari uang pribadiku," jawab Dimas, sedikit defensif. "Lagian ini juga masih ada hubungannya sama program—alat perekam ini buat dokumentasi tambahan yang aku ajukan sendiri ke Prof. Herlina."

"Bukan itu masalahnya," balas Ranti, menahan diri agar tidak terdengar terlalu emosional. "Masalahnya kamu ambil duluan tanpa bilang. Aku yang pegang kas, harusnya aku yang tahu duluan kalau ada pengeluaran di luar rencana."

Ada alasan lain di balik reaksi Ranti yang lebih keras dari yang seharusnya diperlukan untuk selisih uang sekecil itu, meski ia tidak mengatakannya saat itu. Ia teringat caranya bapaknya dulu meminjam uang sana-sini tanpa pernah cerita ke ibunya lebih dulu, sampai semuanya menumpuk jadi utang yang tidak pernah benar-benar bisa dilacak siapa yang bertanggung jawab atas bagian yang mana. Sejak itu, Ranti selalu bersikeras bahwa urusan uang, sekecil apa pun, harus jelas dan terbuka sejak awal—prinsip yang ia bawa bahkan ke dalam kontrak pura-pura menikah ini.

Dimas terdiam sebentar, menyadari nada bicaranya sendiri barusan terlalu defensif. "Oke, kamu benar. Harusnya aku bilang dulu. Maaf."

Ia meletakkan dua buku dan alat perekam itu kembali ke dalam tasnya, seolah menariknya mundur dari meja bersama sebagai bentuk permintaan maaf kecil, meski keduanya tahu barang-barang itu toh akan tetap dipakai cepat atau lambat.

Ranti mengangguk singkat, tapi rasa kesalnya belum sepenuhnya reda—bukan cuma soal jumlah uangnya yang sebenarnya tidak seberapa besar, tapi soal betapa mudahnya Dimas mengambil keputusan sepihak tanpa merasa perlu berunding lebih dulu, padahal soal pembagian kas sudah mereka sepakati bersama di hari pertama.

Malam itu, setelah suasana sedikit mencair, Dimas mencoba membuka percakapan lagi sambil mencuci gelas di dapur. "Boleh aku tanya kenapa soal uang ini kelihatan sensitif banget buat kamu? Bukan cuma soal jumlahnya, kan?"

Ranti terdiam sejenak, mempertimbangkan apakah akan menjawab sekadarnya atau jujur. "Bapakku dulu suka pinjam uang ke sana kemari tanpa cerita ke Ibu," katanya akhirnya. "Utangnya numpuk, dan waktu semua ketahuan, udah kelewat parah buat diselesaikan pelan-pelan. Aku cuma... nggak mau hal kecil kayak gini jadi kebiasaan besar nanti."

Lihat selengkapnya