Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #8

BAB 6 — Bukan Akting

Demam itu datang tanpa peringatan, di tengah malam pada hari ke-16, saat Ranti terbangun dengan kepala yang terasa seperti diikat kencang dan tenggorokan yang perih setiap kali menelan ludah. Ia sempat mencoba tidur lagi, berharap besok pagi rasa itu hilang sendiri seperti biasanya, tapi menjelang subuh, suhu tubuhnya justru terasa semakin panas.

Dimas mendengar suara batuk dari kamar sebelah saat ia bangun untuk salat subuh, dan mengetuk pintu kamar Ranti pelan.

Sejak dua hari sebelumnya, Ranti memang sudah merasa tubuhnya tidak seratus persen fit—kelelahan mengejar tenggat tulisan lepas sambil tetap mengurus rumah, ditambah pikiran yang belum sepenuhnya tenang sejak insiden map cokelat itu, membuat daya tahan tubuhnya perlahan menurun tanpa ia sadari sepenuhnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dari balik pintu.

"Cuma masuk angin," jawab Ranti, suaranya serak, berusaha terdengar biasa saja meski kepalanya berdenyut setiap kali bicara.

Dimas tidak sepenuhnya percaya. Ia membuka pintu sedikit, mengintip, dan mendapati Ranti meringkuk di bawah selimut tipis, wajahnya pucat dengan keringat dingin di dahinya.

"Ini bukan masuk angin," katanya, langsung masuk tanpa menunggu izin lebih lanjut, menempelkan punggung tangannya ke dahi Ranti—refleks yang keluar begitu saja, tanpa sempat dipikirkan lebih dulu apakah itu terlalu personal untuk dilakukan pada seseorang yang secara teknis baru dua minggu ia kenal. "Kamu demam tinggi."

"Aku bisa urus sendiri," kata Ranti, mencoba bangun, tapi kepalanya langsung terasa berputar, membuatnya kembali jatuh ke bantal.

"Nggak usah gaya," kata Dimas, nadanya lebih tegas dari yang pernah Ranti dengar sebelumnya, tapi sama sekali tidak terdengar seperti kemarahan—lebih seperti kekhawatiran yang tidak ingin dibantah. "Aku beliin obat sama termometer sekarang. Jangan ke mana-mana."

Ia keluar rumah masih dengan sarung yang dipakainya untuk salat, kembali sepuluh menit kemudian dengan kantong plastik dari apotek dua puluh empat jam di ujung gang. Tidak ada tetangga yang melihat, tidak ada yang perlu diyakinkan bahwa mereka pasangan yang saling peduli. Hanya dua orang, jam lima pagi, dan satu tubuh yang sedang tidak baik-baik saja.

Sepanjang pagi itu, Dimas bergantian antara mengompres dahi Ranti dengan handuk basah dan mencoba—dengan hasil yang jauh dari sempurna—membuat bubur di dapur yang kompornya baru dua kali ia sentuh sejak hari pertama pindah.

Di sela-sela itu, ponsel Ranti yang tergeletak di meja nakas bergetar dua kali. Dimas melirik layarnya sekilas—Ibu—dan setelah ragu sesaat, memutuskan mengangkatnya, karena Ranti sedang tertidur pulas akibat obat penurun panas yang baru diminum.

"Halo, Bu, ini Dimas," katanya, suaranya dibuat setenang mungkin. "Ranti lagi istirahat, badannya kurang enak. Ada yang bisa saya bantu sampaikan?"

Di ujung telepon, ibunya Ranti terdengar sedikit terkejut mendengar suara laki-laki, tapi cepat menguasai diri. "Oh... nggak apa-apa, cuma mau nanya kabar aja. Tolong bilang, kalau udah mendingan, telepon Ibu ya, Nak."

Lihat selengkapnya