Di minggu ketiga, Fira datang dengan satu permintaan tambahan dari Prof. Herlina yang sedikit di luar dugaan Ranti dan Dimas.
"Tim etik riset minta kami memastikan validitas eksternal program ini," jelas Fira, sambil membuka laptopnya di meja ruang tengah Graha Asri nomor 14. "Salah satu indikatornya, kalian perlu punya jejak digital yang wajar sebagai pasangan baru. Nggak perlu heboh, cukup beberapa unggahan sederhana di media sosial masing-masing—biar kalau ada yang penasaran dan mengecek akun kalian, semuanya terlihat konsisten."
"Jadi kita harus posting mesra-mesraan?" tanya Ranti, setengah menyindir.
"Nggak perlu sampai segitunya," Fira tertawa kecil. "Cukup wajar. Foto masak bareng, foto rumah baru, hal-hal yang biasa diunggah pasangan baru menikah pada umumnya."
"Ada batas berapa kali harus posting?" tanya Dimas, lebih ke arah teknis, seperti biasanya.
"Nggak ada patokan pasti, cukup sewajarnya aja, seminggu sekali atau dua minggu sekali juga cukup," jawab Fira. "Yang penting nggak terkesan dipaksakan. Kalau tiba-tiba tiap hari posting mesra, itu malah mencurigakan buat orang yang jeli."
Setelah Fira pamit, Ranti sempat protes pelan ke Dimas. "Ini berarti hidup kita jadi bagian dari eksperimen di ruang publik juga, ya. Bukan cuma di dalam rumah."
"Ya begitulah risikonya," jawab Dimas, mengangkat bahu. "Tapi tenang, kita kontrol sendiri apa yang mau kita tunjukkan. Nggak harus buka semuanya."
Malam itu, setelah Fira pulang, Ranti dan Dimas duduk berhadapan di meja makan, kikuk memikirkan foto seperti apa yang "wajar" untuk diunggah.
"Kita nggak punya foto berdua sama sekali," kata Dimas, menyadari hal itu sambil menggulir galeri ponselnya yang kosong dari foto semacam itu. "Bahkan foto pas tanda tangan kontrak aja nggak ada."
"Aneh juga, ya," Ranti tertawa kecil. "Udah sebulan tinggal serumah, nol foto berdua."
Akhirnya mereka memutuskan sesuatu yang sederhana—Dimas memotret Ranti dari samping saat sedang menggoreng tempe, asap tipis mengepul dari wajan, cahaya sore masuk dari jendela dapur menciptakan efek yang, tanpa sengaja, terlihat cukup estetik untuk diunggah.
Ranti mengunggahnya ke story Instagram dengan keterangan singkat, "belajar masak buat suami :)", tanpa berpikir terlalu panjang soal siapa saja yang mungkin melihatnya.
Notifikasi mulai berdatangan lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dalam waktu satu jam, tiga sepupu jauh sudah mengirim pesan pribadi berisi tanda tanya dan emoji terkejut, dan seorang teman SMA yang sudah lama tidak berkomunikasi tiba-tiba mengirim stiker ucapan selamat lengkap dengan permintaan, "Kapan resepsinya? Undang, dong!"