Kabar "pernikahan" Ranti dan Dimas menyebar lebih cepat di lingkungan Graha Asri dibanding yang mereka bayangkan, terutama setelah Bu Nunung—dengan niat baik yang sepenuhnya tulus—menceritakannya ke ibu-ibu arisan RT yang rutin berkumpul setiap Jumat sore.
"Pasangan baru itu manis banget, lho," kata Bu Nunung suatu sore, ketika kebetulan Ranti lewat depan rumahnya sambil membawa belanjaan. "Si Mas Dimas keliatan sayang banget sama Ranti. Ibu lihat sendiri waktu Ranti sakit kemarin, tiap hari dianterin ke apotek."
Ranti tersenyum canggung, mengucapkan terima kasih seadanya, sambil dalam hati bertanya-tanya sejak kapan urusan sakitnya jadi bahan obrolan arisan RT.
Tidak semua tetangga seramah dan sepercaya Bu Nunung. Ada Bu Yayah, tetangga dua rumah dari mereka, yang menurut penuturan Bu Nunung sendiri "orangnya emang suka kepo, tapi baik kok sebenarnya"—seseorang yang mulai melempar pertanyaan-pertanyaan kecil yang terasa seperti interogasi halus setiap kali mereka berpapasan.
"Kalian nikahnya di KUA mana, sih?" tanya Bu Yayah suatu pagi, saat Ranti sedang menyapu halaman depan. "Kok nggak pernah lihat ada tamu dari keluarga besar main ke sini?"
"KUA di kota asal saya, Bu, jauh," jawab Ranti, mengulang skrip yang sudah disiapkan tim peneliti. "Keluarga saya juga masih di sana, belum sempat main karena kerjaan Mas Dimas lagi padat."
Bu Yayah mengangguk-angguk, tapi tatapannya masih menyisakan sedikit keraguan yang tidak sepenuhnya hilang. "Ya sudah, kalau ada apa-apa, kompleks sini ramai kok, saling bantu," katanya, sebelum berlalu—kalimat yang terdengar seperti kebaikan biasa, tapi entah kenapa membuat Ranti merasa sedikit diawasi.
Beberapa hari kemudian, Bu Yayah kembali muncul, kali ini membawa pertanyaan yang lebih spesifik. "Ranti kerja apa, sih, tiap hari kok di rumah aja? Mas Dimas yang cari nafkah, ya?"
"Saya kerja lepas, Bu, nulis-nulis buat beberapa media," jawab Ranti, berusaha menjaga nada suaranya tetap ramah meski pertanyaan itu terasa lebih seperti pemeriksaan daripada obrolan basa-basi.
"Oh, kerja dari rumah. Enak, ya, bisa sambil nyiapin momongan nanti," sahut Bu Yayah, tersenyum penuh arti sebelum akhirnya benar-benar berlalu.
Ranti hanya bisa tersenyum kaku, menahan diri untuk tidak menanggapi lebih jauh soal topik yang, dalam situasi mereka, jelas tidak akan pernah relevan untuk dibicarakan sejujurnya.
Puncak dari rasa ingin tahu ibu-ibu kompleks itu terjadi ketika Ranti, atas ajakan Bu Nunung yang sulit ditolak, akhirnya ikut arisan RT untuk pertama kalinya. Duduk melingkar di ruang tamu salah satu rumah tetangga, dikelilingi delapan ibu-ibu dengan usia yang jauh lebih tua darinya, Ranti merasa seperti sedang diwawancarai oleh dewan juri tanpa naskah yang jelas.