Memasuki hari ke-25, ada semacam ritme yang terbentuk dengan sendirinya di antara Ranti dan Dimas, tanpa perlu disepakati lewat kertas seperti peraturan-peraturan di hari pertama dulu.
Ranti bahkan sempat menghitung ulang di kepalanya, hampir tidak percaya bahwa seperempat dari masa program sudah mereka lewati. Dulu, ketika masih di ruang tunggu fakultas menunggu wawancara pertama, seratus hari terasa seperti waktu yang sangat panjang, hampir mustahil dibayangkan ujungnya. Sekarang, dua puluh lima hari pertama itu terasa berlalu secepat kedipan mata, membuatnya bertanya-tanya apakah tujuh puluh lima hari sisanya akan terasa sama cepatnya.
Setiap Sabtu pagi, mereka berdua pergi ke pasar tradisional dekat kompleks bersama-sama—bukan karena kesepakatan resmi, tapi karena suatu Sabtu Dimas ikut begitu saja sambil membawa kantong belanja, dan sejak itu menjadi kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan lagi. Dimas selalu tawar-menawar dengan gaya yang menurut Ranti "terlalu sopan buat orang yang lagi nawar", sementara Ranti lebih lihai memilih sayur segar, kebiasaan yang ia warisi dari ibunya sejak kecil.
Dari kebiasaan belanja pasar itu, lahir pula satu menu andalan yang tanpa sengaja menjadi favorit mereka berdua—tumis kangkung terasi versi Ranti yang selalu diminta Dimas setiap kali mereka pulang membawa kangkung segar. "Nggak ada yang lain seenak ini," puji Dimas suatu kali, membuat Ranti setengah bercanda mengancam akan menaikkan "harga jasa masak" kalau pujian itu terus-menerus datang tanpa dibarengi cuci piring yang lebih rajin.
Setiap malam, sebelum tidur, mereka punya kebiasaan baru duduk sebentar di teras depan, membicarakan hal-hal kecil yang terjadi hari itu—bukan laporan formal untuk jurnal harian, tapi obrolan ringan yang lebih terasa seperti kebiasaan dua orang yang sudah lama saling kenal. Kadang soal tulisan lepas Ranti yang baru selesai, kadang soal data penelitian Dimas yang errornya tidak kunjung ketemu.
"Kamu sadar nggak," kata Ranti suatu malam, menyandarkan kepala ke tiang teras, "kita udah hampir sebulan, dan aku ngerasa lebih nyaman cerita hal random ke kamu dibanding ke temen-temen aku yang udah kenal bertahun-tahun."
Dimas tersenyum kecil, matanya menatap ke arah gang kompleks yang mulai sepi. "Mungkin karena kita nggak punya beban ekspektasi kayak temenan biasa," katanya. "Nggak ada sejarah, nggak ada baggage. Kita cuma... ada di sini, sekarang, tanpa perlu mikirin masa lalu satu sama lain."
"Sampai suatu saat map cokelat itu dibuka," canda Ranti, setengah menyindir, mengingat kejadian beberapa minggu lalu.
Dimas tertawa, meski ada sedikit ketegangan yang lewat cepat di wajahnya sebelum kembali santai. "Sampai saat itu tiba," katanya, mengalihkan topik dengan cepat.
Akhir pekan itu juga, kompleks Graha Asri mengadakan acara kecil-kecilan menyambut peringatan hari jadi RT, lengkap dengan lomba makan kerupuk untuk anak-anak dan panggung dangdut sederhana di lapangan tengah. Sebagai "pasangan baru", Ranti dan Dimas otomatis diundang, dan untuk pertama kalinya mereka hadir di acara sosial sebagai pasangan tanpa persiapan skrip khusus dari tim peneliti—murni mengandalkan kebiasaan yang sudah terbentuk secara alami selama sebulan terakhir.
Dimas menggandeng tangan Ranti ringan saat menyeberangi jalan menuju lapangan, gerakan refleks yang bahkan tidak sempat mereka bicarakan sebelumnya, dan anehnya terasa wajar dilakukan, bukan seperti akting yang harus dipikirkan dulu. Sepanjang acara, mereka duduk berdampingan di bangku plastik, tertawa bersama menonton anak-anak berebut kerupuk yang digantung di tali rafia, sesekali berbisik komentar jahil satu sama lain tentang gaya joget beberapa bapak-bapak di depan panggung.