Telepon itu masuk pukul satu dini hari, hari ke-31, ketika Ranti baru saja terlelap setelah begadang menyelesaikan tenggat tulisan. Nama "Ibu" menyala di layar, dan sesuatu dalam dirinya langsung tahu bahwa panggilan jam segini bukan pertanda baik.
"Ranti," suara ibunya terdengar berantakan, jauh dari nada lelah-yang-biasa seperti telepon-telepon sebelumnya. "Bapak kena serangan jantung. Sekarang di UGD."
Ranti duduk tegak seketika, kantuknya hilang seperti disiram air es. "UGD mana, Bu? Aku ke sana sekarang."
Suara ibunya bergetar menyebutkan nama rumah sakit daerah, tempat yang butuh waktu hampir empat jam perjalanan dari Graha Asri. Ranti melompat dari kasur, tangannya gemetar mencari tas dan pakaian ganti dalam gelap, pikirannya berputar terlalu cepat untuk bisa fokus pada satu hal saja.
Ia sempat berdiri mematung sejenak di tengah kamar, tas setengah terisi di satu tangan, ponsel di tangan lain, tidak tahu harus menelepon siapa dulu—memesan tiket kereta malam, mengabari kakaknya yang tinggal di kota lain, atau sekadar duduk dan menenangkan detak jantungnya sendiri yang berpacu terlalu cepat. Semua terasa mendesak secara bersamaan, dan justru karena itu, ia merasa lumpuh, tidak bisa memilih langkah pertama yang harus diambil.
Ketukan di pintu kamarnya membuatnya tersentak. Dimas berdiri di sana, wajah masih setengah mengantuk tapi matanya sudah waspada. "Aku dengar kamu buru-buru. Ada apa?"
"Bapakku serangan jantung," kata Ranti, suaranya nyaris pecah. "Aku harus ke sana sekarang, Dimas. Aku nggak peduli lagi soal program ini."
"Aku anter," kata Dimas, tanpa ragu sedikit pun, langsung berbalik mengambil kunci motor dan jaketnya sendiri. "Kita berangkat lima menit lagi."
Ia tidak bertanya lebih jauh soal detail kondisi, tidak juga menawarkan basa-basi menenangkan yang biasa diucapkan orang dalam situasi seperti ini. Ia hanya bergerak cepat, seolah keputusan untuk membantu sudah dibuat jauh sebelum pertanyaan itu sempat terucap—satu hal yang, di tengah kepanikan Ranti malam itu, terasa jauh lebih berarti daripada kalimat penghiburan apa pun.
Sepanjang perjalanan malam itu, Ranti duduk di jok belakang motor Dimas, wajahnya menempel di punggungnya, mencoba menahan tangis yang terus mendesak keluar setiap kali bayangan wajah bapaknya muncul di kepala. Jalanan kota yang biasanya ramai kini sepi, hanya lampu jalan yang berkelap-kelip cepat melewati mereka, seolah ikut mempercepat waktu yang terasa berjalan terlalu lambat untuk keadaan sedarurat ini.
"Kita nggak akan sampai empat jam naik motor," kata Dimas di lampu merah pertama, suaranya berusaha tenang. "Aku telepon dulu jasa travel yang biasa dipakai temen kampusku, lebih cepat dan aman daripada motor sejauh itu."
Ranti hanya bisa mengangguk, terlalu lelah untuk berpikir jernih, membiarkan Dimas mengatur semuanya—memesan mobil travel darurat, membangunkan sopir langganan yang biasa dipakai anak-anak kos di sekitar kampus, bahkan menghubungi Fira lewat pesan singkat untuk mengabarkan bahwa mereka berdua harus meninggalkan Graha Asri mendadak karena keadaan darurat keluarga.