Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #13

BAB 11 — Yang Tidak Pernah Diceritakan

"Itu... Dimas, Bu," jawab Ranti akhirnya, suaranya tercekat, tidak tahu harus melanjutkan dengan versi cerita yang mana—versi untuk tetangga Graha Asri, atau kejujuran yang selama ini ia tunda.

Ibunya menatap Dimas, lalu kembali menatap Ranti, kebingungan jelas terpancar di wajahnya yang masih basah oleh air mata. "Dimas siapa?"

Sebelum Ranti sempat menjawab, sang bibi—yang rupanya adalah adik dari ibu Ranti yang tinggal di kota yang sama dengan tempat tinggal lama Ranti, biasa dipanggil Bu Painah—menyela dengan nada yang tidak bisa disebut ramah. "Ini yang kemarin diomongin Yu Painah itu, kan? Katanya Ranti udah nikah, ada fotonya di Instagram. Bener, ta?"

Ranti sempat bingung sesaat, sebelum menyadari bahwa "Yu Painah" yang dimaksud kemungkinan adalah bibi jauh yang pernah mengiriminya pesan panjang beberapa minggu lalu—orang yang sama yang ia mohon untuk tidak menyebarkan kabar itu ke keluarga besar. Rupanya permintaan itu tidak cukup kuat untuk membendung rasa penasaran yang sudah telanjur menyebar dari mulut ke mulut.

Wajah ibunya berubah drastis, dari kebingungan menjadi sesuatu yang lebih menyerupai keterkejutan yang tidak siap ia terima di tengah krisis yang sudah cukup berat malam itu. "Kamu udah nikah? Sejak kapan? Kenapa Ibu nggak pernah dikasih tahu?"

"Bukan gitu, Bu—" Ranti mencoba menyela, tapi lidahnya terasa kelu, tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan sesuatu serumit ini di tempat seperti ini.

"Terus gimana?" desak ibunya, suaranya makin tinggi meski masih tertahan mengingat mereka berada di ruang tunggu rumah sakit. "Ibu lihat sendiri postingan itu dari cerita Bu Painah, foto kamu masak, ada tulisan 'suami'. Ibu pikir Bu Painah salah orang, ternyata bener kamu?"

Ranti menutup matanya sejenak, merasakan dunia seolah runtuh dari dua arah sekaligus—kesehatan bapaknya yang masih di ujung tanduk, dan kebohongan yang selama ini ia rawat hati-hati, kini terbongkar di tempat dan waktu yang paling tidak tepat yang bisa dibayangkan.

"Bu, ini bukan pernikahan beneran," kata Ranti akhirnya, memilih jujur secara penuh, tidak sanggup lagi menambah lapisan kebohongan lain di atas kebohongan yang sudah cukup menumpuk. "Ini program penelitian dari kampus. Kami cuma pura-pura menikah buat riset, ada kontraknya, ada bayarannya. Aku ikut karena butuh uang buat bantu utang Bapak."

Ia melanjutkan, kalimat demi kalimat meluncur lebih lancar dari yang ia kira, seolah bendungan yang selama ini menahannya akhirnya jebol dan tidak bisa lagi ditahan sebagian-sebagian. "Seratus hari, Bu. Kalau selesai, aku dapet seratus lima puluh juta. Aku pikir itu jalan paling cepat buat nutup utang bengkel Bapak, daripada aku minjem sana-sini tanpa kepastian."

Keheningan yang mengikuti kalimat itu terasa lebih berat daripada suara tangis atau amarah sekalipun. Ibunya menatap Ranti lama, matanya berkaca-kaca dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—bukan lagi karena kondisi suaminya, tapi karena kenyataan bahwa anak sulungnya sampai harus melakukan hal seperti ini, sendirian, tanpa pernah cerita apa pun.

"Kenapa nggak bilang ke Ibu?" tanya ibunya, suaranya pecah. "Kenapa kamu nanggung semua ini sendirian, Nak?"

"Karena aku nggak mau Ibu makin kepikiran," jawab Ranti, air matanya sudah tidak terbendung lagi. "Utang kita udah cukup berat, aku nggak mau nambahin beban Ibu mikirin cara aku dapetin uangnya."

Lihat selengkapnya