Dokter akhirnya memutuskan bapak Ranti perlu menjalani tindakan pemasangan ring jantung dalam waktu tiga hari ke depan, dengan estimasi biaya total mencapai delapan puluh juta rupiah—angka yang, ketika disebutkan petugas administrasi rumah sakit, membuat ibunya Ranti langsung terduduk lemas di kursi tunggu.
"BPJS kita non-aktif," kata ibunya, suaranya nyaris berbisik, seperti malu mengakuinya di depan Dimas. "Sejak bengkel Bapak tutup, iurannya nunggak, terus keputusannya diberhentikan sepihak."
Petugas administrasi menjelaskan opsi mengaktifkan kembali BPJS dengan membayar tunggakan sekaligus, tapi prosesnya butuh waktu verifikasi yang tidak bisa dipastikan selesai dalam tiga hari—waktu yang sudah terlalu mepet untuk kondisi jantung yang butuh penanganan segera. Pilihan yang tersisa hanya jalur mandiri, dengan seluruh biaya ditanggung sendiri di muka.
"Ada opsi cicilan rumah sakit, Bu, tapi tetap butuh uang muka minimal lima puluh persen," tambah petugas itu, nadanya berusaha seramah mungkin meski kalimatnya tetap terasa seperti pukulan tambahan bagi siapa pun yang mendengarnya dalam kondisi seperti ini.
Ranti menghitung cepat di kepalanya—tabungan pribadinya tidak sampai lima juta, dana operasional program yang ia pegang untuk kebutuhan rumah tangga bulanan jelas bukan untuk keperluan seperti ini, dan dana pokok seratus lima puluh juta baru bisa dicairkan jika ia menyelesaikan seratus hari penuh—sementara sekarang baru hari ke-31.
"Aku bisa minjem ke beberapa temen," kata Ranti, mencoba berpikir keras. "Tapi kayaknya nggak akan cukup sampai delapan puluh juta dalam tiga hari."
Ia mencoba menghubungi Tika lebih dulu, yang tanpa berpikir panjang langsung menjanjikan lima juta dari tabungannya sendiri, disusul satu lagi teman kuliahnya yang bisa membantu tiga juta. Angka-angka kecil itu terkumpul pelan-pelan, tapi masih jauh dari cukup dibandingkan total yang dibutuhkan.
Dimas, yang sejak tadi duduk di sudut ruang tunggu sambil membuka aplikasi rekeningnya sendiri, akhirnya bicara. "Aku punya tabungan sekitar tiga puluh lima juta. Bisa aku pinjemin dulu buat nutup sebagian."
Ranti menoleh cepat, terkejut. "Dimas, nggak bisa. Ini bukan tanggung jawab kamu."
"Aku tahu ini bukan kewajiban kontrak," jawab Dimas, tenang tapi tegas. "Tapi aku juga nggak bisa diem aja liat kamu sepanik ini, sementara aku punya sesuatu yang bisa bantu."