Bapak Ranti akhirnya menjalani tindakan pemasangan ring dengan lancar, dan setelah lima hari observasi tambahan, diperbolehkan pulang dengan catatan kontrol rutin dan pantangan ketat soal makanan berlemak. Ranti dan Dimas kembali ke Graha Asri di hari ke-37, membawa kelelahan fisik dan emosional yang belum sepenuhnya pulih, tapi juga membawa sesuatu yang baru—ibunya kini tahu yang sebenarnya, dan entah bagaimana, dunia tidak runtuh karena itu.
Minggu-minggu pertama setelah kepulangan itu dihabiskan untuk kembali menata ritme yang sempat terputus. Ranti mengejar tenggat tulisan yang tertunda, sesekali menyempatkan menelepon ibunya untuk menanyakan perkembangan kondisi bapaknya, sementara Dimas kembali larut dalam data penelitiannya sendiri, meski kini dengan perhatian ekstra memastikan Ranti tidak lupa makan tepat waktu di tengah kesibukannya.
Dua minggu setelah kepulangan mereka, undangan pernikahan tiba lewat WhatsApp dari Tika—sepupunya menikah, resepsinya digelar di gedung serbaguna tidak jauh dari kompleks tempat Ranti dulu tinggal sebelum program ini dimulai. Tika memaksa Ranti datang, sekalian penasaran ingin melihat langsung sosok "suami program penelitian" yang selama ini hanya ia dengar lewat telepon.
"Kita dateng sebagai pasangan beneran aja, ya," kata Tika lewat telepon, setengah bercanda. "Nggak usah dijelasin sama orang-orang di sana soal kontraknya. Capek aku jelasin dua kali."
"Emang siapa lagi yang bakal nanya-nanya?" tanya Ranti.
"Ya kali aja ada temen SMA yang penasaran," jawab Tika. "Lagian, kalian juga udah biasa 'akting' di depan tetangga, kan? Anggap aja resepsi ini latihan tambahan."
Ranti tertawa mendengar itu, meski dalam hati ia menyadari betapa anehnya mendengar kata "akting" itu sekarang, setelah beberapa minggu terakhir semakin sulit ia bedakan mana yang benar-benar akting dan mana yang bukan.
Hari resepsi itu, Ranti mengenakan kebaya sederhana yang ia pinjam dari Tika, sementara Dimas memakai kemeja batik yang, menurut pengakuannya sendiri, baru dua kali ia pakai sejak dibeli tahun lalu. Mereka duduk di meja yang sama dengan Tika dan beberapa teman kuliah lainnya, menikmati hidangan prasmanan sambil menyaksikan pengantin baru itu berkeliling menyalami tamu satu per satu.
Tika, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tidak kuat juga menahan rasa penasarannya begitu Dimas sempat pamit ke toilet. "Beneran, deh, Ran," bisiknya, mencondongkan badan ke arah Ranti. "Dia baik banget kelihatannya. Kamu yakin ini cuma proyek penelitian?"
"Yakin," jawab Ranti, meski jawabannya keluar sedikit lebih cepat dari yang seharusnya diperlukan untuk pertanyaan sesederhana itu.
"Oke deh," kata Tika, mengangkat bahu, tidak sepenuhnya percaya tapi memilih tidak mendesak lebih jauh di tengah keramaian resepsi.