Perubahan itu tidak datang lewat satu momen besar, melainkan lewat serangkaian hal kecil yang, jika ditelusuri satu per satu oleh Dimas sendiri, sudah mulai terjadi jauh sebelum ia benar-benar menyadarinya.
Ia menyadarinya penuh suatu sore, ketika Ranti pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin bapaknya seorang diri—kali ini tidak meminta Dimas menemani, karena merasa sudah cukup merepotkan selama krisis kemarin. Sepanjang sore itu, rumah Graha Asri terasa aneh sepi, dan Dimas mendapati dirinya berkali-kali mengecek ponsel, menunggu kabar yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan lagi, hanya sekadar ingin tahu Ranti baik-baik saja.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan data penelitiannya sendiri, membuka spreadsheet berisi hasil wawancara pasangan-pasangan lain di program ini, tapi konsentrasinya terus terpecah. Sesekali ia melirik jam dinding, menghitung kira-kira sudah berapa lama Ranti pergi, membandingkannya dengan estimasi waktu kontrol rumah sakit yang biasa memakan waktu dua sampai tiga jam.
Ia sempat mencoba menulis catatan analisis untuk tesisnya, tapi setiap kali membaca ulang kalimat yang baru ia ketik, pikirannya kembali melayang ke Ranti—apakah antreannya panjang, apakah ia sudah makan siang, apakah kondisi bapaknya benar-benar seperti yang dilaporkan dokter terakhir kali. Ia bahkan sempat mengetik pesan "gimana kabarnya?" tiga kali, menghapusnya lagi setiap kali, khawatir terkesan terlalu posesif untuk sekadar "rekan serumah".
Ia sampai berdiri dari kursinya, mondar-mandir kecil di ruang tengah, sebelum akhirnya memutuskan untuk membersihkan dapur yang sebenarnya sudah cukup rapi, sekadar mencari kegiatan yang bisa mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran yang, ia sadari sendiri, sudah tidak proporsional untuk sekadar kontrol rutin ke dokter.
Ketika Bayu mengajaknya nongkrong di kafe dekat kampus sore itu, Dimas mendapati dirinya sendiri terus-menerus melirik jam, menghitung kapan sebaiknya ia pulang, meski tidak ada janji apa pun dengan Ranti soal jam berapa harus di rumah.
"Lo kenapa, sih, dari tadi gelisah?" tanya Bayu, memperhatikan tingkah Dimas yang tidak biasa.
"Nggak apa-apa," jawab Dimas, buru-buru menyimpan ponselnya kembali ke saku. "Cuma kepikiran kerjaan."
"Kerjaan apaan, dari tadi lo cengar-cengir sendiri liat HP," goda Bayu, tidak mau kalah. "Jangan-jangan Ranti, ya?"
Dimas tersedak kopinya sendiri, buru-buru mengelap mulutnya dengan tisu. "Ngawur," katanya, meski nada suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Muka lo bilang lain," kata Bayu, tertawa.