Sementara Dimas bergulat dengan kesadaran barunya, Ranti justru berada di fase yang sama sekali berbeda—terlalu sibuk dengan pemulihan bapaknya, cicilan utang yang harus ia atur ulang, dan tenggat tulisan yang sempat terbengkalai selama krisis kemarin, hingga tidak punya banyak ruang untuk memikirkan hal-hal yang lebih personal soal Dimas.
Setiap malam, alih-alih memikirkan hubungannya dengan Dimas, pikiran Ranti lebih banyak disita oleh perhitungan-perhitungan praktis: berapa cicilan yang harus ia bayar bulan ini untuk melunasi pinjaman ke Tika dan temannya, berapa lama lagi sampai dana talangan dari program benar-benar cair, dan bagaimana caranya memastikan bapaknya tetap disiplin menjaga pola makan sesuai anjuran dokter meski jauh dari pengawasannya langsung.
Ia bahkan membuat spreadsheet sederhana sendiri di ponselnya, mencatat setiap rupiah yang keluar dan masuk, kapan cicilan jatuh tempo, kapan estimasi dana program cair. Kebiasaan ini, meski melelahkan, memberinya semacam rasa kendali di tengah situasi yang beberapa minggu terakhir terasa berada jauh di luar kendalinya.
Sesekali, di antara jadwal kerja lepasnya yang padat, Ranti sempat menerima ajakan Tika untuk bertemu di kafe, sekadar melepas penat. Di sana, Tika kembali menyinggung soal Dimas, kali ini dengan pertanyaan yang lebih spesifik. "Ran, jujur deh, kamu beneran nggak ada rasa sama sekali ke dia? Padahal dari cerita-cerita kamu, dia keliatan perhatian banget."
"Nggak sempet mikirin itu, Tik," jawab Ranti, jujur. "Otakku penuh sama utang, cicilan, sama kondisi Bapak. Nggak ada ruang buat mikirin hal-hal kayak gitu sekarang."
"Ya udah, tapi jangan sampai nanti nyesel karena kelewat sibuk mikirin hal lain," kata Tika, mengangkat bahu. "Kadang yang paling berharga itu yang justru kelewat pas kita lagi sibuk sama hal lain."
Ranti hanya tertawa kecil menanggapi nasihat itu, tidak benar-benar memikirkannya lebih jauh, terlalu lelah untuk mempertimbangkan kemungkinan yang, menurutnya, tidak relevan dengan prioritas hidupnya saat ini.
"Lagian," tambah Ranti, mengaduk es kopinya, "kalaupun beneran ada apa-apa, kan tetep ada tanggal berakhirnya. Ngapain juga aku bikin diri sendiri repot mikirin perasaan buat sesuatu yang emang udah dari awal ada batas waktunya."
Tika menatapnya lama, seperti ingin membantah tapi memilih menyimpan pendapatnya sendiri untuk saat ini. "Terserah kamu, deh," katanya akhirnya, mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih ringan.
Baginya, kebaikan Dimas selama ini—mengantarnya ke rumah sakit, meminjamkan uang, menyeduhkan teh tanpa diminta—dimaknai sebagai bagian dari kerja sama tim yang solid, sesuatu yang membuat program ini berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan di awal. Dalam kepalanya, Dimas adalah rekan yang baik, bahkan mungkin sahabat baru yang tidak terduga, tapi belum sampai pada kategori yang lebih rumit dari itu.
"Kamu udah mikirin belum," tanya Fira, di sesi wawancara mingguan berikutnya, "gimana perasaan kalian satu sama lain sekarang, dibanding hari pertama dulu?"