Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #18

BAB 16 — Nyaris Berakhir

Pertengkaran besar pertama mereka dimulai dari sesuatu yang, jika ditelisik ulang, sebenarnya remeh—soal siapa yang lupa mengunci pintu belakang semalam. Tapi di hari ke-46, dengan tumpukan tekanan yang masing-masing pendam sejak beberapa minggu terakhir, hal remeh itu berubah jadi pemicu ledakan yang sudah lama menunggu momentumnya sendiri.

Pagi itu dimulai biasa saja—Ranti bangun lebih dulu, mendapati pintu belakang yang mengarah ke halaman kecil belakang rumah masih tidak terkunci sejak malam sebelumnya, angin pagi masuk bebas lewat celahnya. Bukan hal besar, sebenarnya; kompleks Graha Asri cukup aman, dan tidak ada apa pun yang hilang. Tapi kelelahan yang sudah menumpuk berminggu-minggu, ditambah kecemasan yang belum sepenuhnya reda sejak krisis rumah sakit, membuat Ranti bereaksi jauh lebih keras dari yang seharusnya diperlukan untuk masalah sesepele itu.

Ia berdiri di depan pintu itu cukup lama, menatapnya seolah pintu itu adalah simbol dari segala hal yang terasa mulai lepas kendali belakangan ini—jadwal jurnal harian yang mulai berantakan, komunikasi dengan Dimas yang entah kenapa terasa lebih berjarak, bahkan urusan sederhana seperti mengunci pintu pun sekarang butuh diingatkan berkali-kali.

"Aku udah bilang berkali-kali, pintu belakang itu harus dicek sebelum tidur," kata Ranti, nadanya lebih tajam dari yang seharusnya diperlukan untuk masalah sekecil itu. "Untung nggak kenapa-kenapa. Kalau ada apa-apa gimana?"

"Aku lupa, oke? Manusiawi," jawab Dimas, defensif, jauh dari nada tenangnya yang biasa. "Nggak usah dibesar-besarin."

"Aku nggak lagi bikin besar-besaran," balas Ranti. "Aku cuma minta kamu lebih hati-hati. Belakangan ini kamu tuh kayak... nggak fokus. Sering ngelamun, kadang jawab pertanyaan telat, sekarang lupa kunci pintu. Ada apa, sih, sebenarnya?"

Pertanyaan itu, yang terdengar sederhana bagi Ranti, justru menyentuh titik paling sensitif yang selama berminggu-minggu berusaha keras disembunyikan Dimas. Ia merasa terpojok, dan alih-alih menjawab jujur, ia justru melontarkan pertahanan yang lebih keras dari yang ia maksudkan.

"Nggak semua orang harus cerita semua hal yang dia pikirin, Ranti," katanya, suaranya meninggi. "Kamu juga nggak selalu cerita semuanya ke aku."

"Itu beda," kata Ranti, tersinggung. "Aku nggak cerita soal utang keluarga di awal karena aku baru kenal kamu. Sekarang udah beda, kita udah ngelewatin banyak hal bareng. Kalau ada yang ngeganggu pikiran kamu, aku pikir kita udah cukup deket buat saling cerita."

Dimas mendesah, mencoba mengendalikan nada suaranya, tapi kelelahan berminggu-minggu menyimpan rahasia membuatnya sulit berpikir jernih. "Kadang," katanya, "orang punya alasan buat nyimpen sesuatu, bukan karena nggak percaya, tapi karena takut nyeritain hal itu justru bakal ngerusak semuanya."

"Semuanya apa?" desak Ranti, dahinya berkerut. "Dimas, kamu bikin aku makin bingung sama cara ngomong kamu yang muter-muter gini."

"Kamu bilang aku 'partner proyek yang enak diajak kerja sama'," balas Dimas, kalimat yang sudah ia simpan dan putar ulang di kepalanya berminggu-minggu, akhirnya keluar dengan nada yang lebih pahit dari yang ia inginkan. "Jadi maaf kalau aku nggak ngerasa perlu buka-bukaan semua ke 'partner proyek'."

Lihat selengkapnya