Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #19

BAB 17 — Tekanan dari Kampus

Ketegangan antara Ranti dan Dimas tidak luput dari perhatian tim peneliti, terutama setelah jurnal harian keduanya selama tiga hari berturut-turut diisi dengan kalimat-kalimat pendek dan datar yang jauh berbeda dari catatan panjang penuh detail yang biasa mereka tulis.

Sistem pemantauan program, seperti yang dijelaskan Fira dalam pesan singkatnya, secara otomatis menandai perubahan drastis dalam pola penulisan jurnal sebagai indikator yang perlu ditindaklanjuti—bukan untuk menghukum, tapi untuk memastikan tidak ada peserta yang mengalami tekanan psikologis yang luput dari perhatian tim selama masa program berjalan.

Fira menghubungi mereka berdua secara terpisah, meminta sesi wawancara tambahan di luar jadwal mingguan biasa—prosedur standar, jelasnya, ketika sistem mendeteksi "anomali signifikan" dalam pola jurnal dua peserta program.

"Kami perlu memastikan situasi kalian masih dalam batas aman untuk melanjutkan program," kata Fira, kali ini didampingi seorang pria berusia lima puluhan yang diperkenalkan sebagai Dr. Prasojo, anggota komite etik penelitian yang jarang terlibat langsung dalam sesi wawancara harian.

"Ada masalah apa, ya, Pak?" tanya Ranti, cemas, mengira mereka berdua akan didiskualifikasi.

"Bukan masalah pelanggaran kontrak," jelas Dr. Prasojo, nadanya formal tapi tidak mengintimidasi. "Tapi ketika terjadi penurunan drastis dalam kualitas data—dalam hal ini jurnal harian dan interaksi kalian—protokol etik kami mengharuskan verifikasi langsung, memastikan tidak ada tekanan psikologis berlebihan yang membahayakan kesejahteraan peserta."

Ia membuka tasnya, mengeluarkan satu bendel formulir standar yang biasa digunakan untuk sesi evaluasi semacam ini. "Ini bukan pertama kalinya kami lakukan ini," tambahnya, seolah ingin menenangkan kekhawatiran yang jelas terpancar di wajah Ranti. "Ada dua pasangan lain di gelombang pertama yang juga sempat melalui sesi serupa. Salah satunya berhasil melanjutkan program sampai selesai, satunya lagi memilih mundur dengan baik-baik, tanpa konsekuensi buruk apa pun selain kehilangan sisa dana."

Ranti dan Dimas duduk berjauhan di sofa yang sama, jarak yang tidak biasa mereka ambil sejak beberapa minggu terakhir, sesuatu yang jelas tidak luput dari pengamatan Dr. Prasojo yang sesekali mencatat di lembar penilaiannya.

"Sebelum kita mulai," kata Dr. Prasojo, meletakkan tasnya di kursi kosong, "saya ingin menegaskan bahwa sesi ini sifatnya suportif, bukan investigatif. Tujuan kami murni memastikan kesejahteraan kalian berdua, terlepas dari bagaimana nanti keputusan kalian soal kelanjutan program."

"Kami cuma lagi ada sedikit kesalahpahaman," kata Dimas, mencoba meredam situasi. "Bukan sesuatu yang serius."

"Bisa dijelaskan lebih spesifik?" tanya Dr. Prasojo, tidak mudah puas dengan jawaban umum semacam itu.

Ranti dan Dimas saling melirik sekilas, tidak yakin seberapa jujur mereka harus bercerita di depan komite etik yang, secara langsung, memegang kendali atas kelanjutan—dan pencairan dana—program ini. Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya, dengan Dr. Prasojo yang duduk tegak mengamati bahasa tubuh mereka berdua, mencari petunjuk yang mungkin tidak terucap lewat kata-kata.

Lihat selengkapnya