Sesi konseling tambahan yang dijadwalkan komite etik ternyata membawa konsekuensi yang tidak diduga siapa pun—termasuk oleh Dr. Prasojo sendiri, yang meminta tim administrasi menyiapkan seluruh riwayat dokumen program kedua peserta untuk ditinjau ulang sebagai bagian dari prosedur standar sebelum sesi konseling dimulai.
Dua hari berlalu sejak sesi bersama Dr. Prasojo, dua hari yang dihabiskan Ranti dan Dimas dalam kecanggungan yang perlahan mencair, meski belum sepenuhnya kembali ke kehangatan sebelumnya. Mereka mulai bicara lagi soal hal-hal kecil sehari-hari, meski topik yang lebih personal masih dihindari keduanya, seolah ada kesepakatan tak tertulis untuk menunggu waktu yang lebih tepat.
Ranti tiba lebih awal dari jadwal, dipersilakan menunggu di ruang administrasi kecil di lantai dua gedung fakultas, sementara petugas masih menyiapkan berkas untuk sesi bersama psikolog pendamping. Ruangan itu sepi, hanya ada satu petugas administrasi muda yang tampak kewalahan menjawab telepon sambil mencari-cari sesuatu di antara tumpukan map di meja kerjanya.
Di atas meja resepsionis, tergeletak sebuah map yang belum sempat disimpan kembali oleh petugas itu—map yang labelnya membuat Ranti membeku di tempat: "Draft Protokol Penelitian: Kriteria Seleksi Pasangan — Disusun oleh D. Prasetyo & Prof. Herlina."
Nama itu, tertulis jelas sebagai salah satu penyusun protokol seleksi, bukan sekadar peserta seperti yang selama ini ia yakini.
Tangannya gemetar membuka map itu, meski separuh dirinya berteriak untuk tidak melakukannya. Di dalamnya, ia menemukan dokumen berisi kriteria pemilihan peserta, catatan evaluasi berbagai kandidat, dan—yang membuat dadanya terasa seperti diremas—salinan esai aplikasinya sendiri, dengan coretan tangan Dimas di pinggir halaman: "Kandidat paling menjanjikan. Latar belakang ekonomi kuat mendukung hipotesis ketahanan-tekanan. Pilih dia."
Ia membolak-balik beberapa halaman lagi, tangannya semakin gemetar. Ditemukan pula lembar perbandingan antara dirinya dengan dua kandidat lain yang sempat dipertimbangkan, lengkap dengan catatan singkat Dimas yang menjelaskan kenapa ia lebih memilih Ranti dibanding keduanya—catatan yang, meski ditulis dengan bahasa akademis, tidak bisa menyembunyikan nada kekaguman personal yang terselip di antara kalimat-kalimat teknisnya.
Petugas administrasi kembali dari mengangkat telepon, terkejut mendapati map itu sudah terbuka di tangan Ranti. "Oh—maaf, itu seharusnya nggak ada di sini," katanya panik, buru-buru mengambilnya kembali. "Tolong jangan disebar, ya, itu dokumen internal yang belum final."
Tapi kerusakan sudah terjadi. Ranti duduk mematung, mencerna apa yang baru saja ia baca, sementara petugas itu bergegas menghubungi seseorang lewat telepon, wajahnya panik.
Ketika Dimas tiba beberapa menit kemudian untuk sesi konseling bersama, ia mendapati Ranti sudah berdiri menunggunya di lorong, wajahnya pucat, matanya penuh amarah yang bercampur luka yang jauh lebih dalam dari sekadar pertengkaran soal pintu belakang beberapa hari lalu.