Ranti mengemasi beberapa potong pakaian ke dalam ransel kecil malam itu juga, memutuskan untuk menginap di kos Tika selama beberapa hari—bukan keluar dari program secara resmi, hanya butuh jarak fisik dari Graha Asri dan dari Dimas, sebelum kepalanya benar-benar bisa berpikir jernih lagi.
Sepanjang perjalanan menuju kos Tika naik ojek daring, Ranti menatap layar ponselnya berkali-kali, setengah berharap ada pesan dari Dimas yang menjelaskan segalanya dengan cara yang bisa membuatnya merasa lebih baik, setengah lagi takut pesan itu benar-benar muncul dan ia tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Tidak ada pesan yang masuk sampai ia tiba di depan kos, hanya keheningan yang entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada permintaan maaf yang belum tentu bisa ia terima.
"Aku nggak maksa kamu cerita semuanya sekarang," kata Tika, membukakan pintu kosnya begitu melihat wajah Ranti yang bengkak karena menangis sepanjang perjalanan. "Tapi minimal makan dulu, ya. Kamu keliatan kayak zombie."
Ia menuntun Ranti masuk, menyingkirkan tumpukan baju kuliah yang berserakan di kasur satu-satunya di kamar kosnya, menyiapkan tempat seadanya agar sahabatnya bisa duduk nyaman. Dari dapur bersama di ujung lorong kos, ia memanaskan sisa sup yang dibelinya sore tadi, membawanya masuk bersama segelas air putih tanpa banyak bertanya lebih dulu.
Ranti duduk di kasur kos Tika yang sempit, memeluk lututnya, akhirnya menceritakan semuanya—map cokelat, esai aplikasi dengan coretan tangan Dimas, kalimat yang tidak pernah selesai diucapkan di lorong fakultas siang tadi. Tika mendengarkan tanpa memotong, sesekali menggenggam tangan Ranti erat setiap kali suaranya mulai pecah.
"Jadi dia beneran milih kamu dari awal," kata Tika akhirnya, mencoba mencerna seluruh cerita itu. "Bukan random."
"Iya," jawab Ranti, suaranya lirih. "Dan aku nggak tau harus ngerasa gimana. Marah, jelas. Tapi... aku juga inget semua hal yang udah dia lakuin buat aku, buat Bapak. Itu nggak keliatan kayak kebohongan, Tik. Itu keliatan nyata."
"Mungkin emang nyata," kata Tika, hati-hati. "Cuma dibangun di atas cara yang salah buat mulai."
Kalimat itu menempel lama di kepala Ranti, terlalu jujur untuk dibantah, terlalu menyakitkan untuk diterima begitu saja.
Malam itu, Ranti tidur di kos Tika dengan tidur yang tidak nyenyak, terbangun beberapa kali karena mimpi-mimpi yang tidak jelas bentuknya tapi meninggalkan perasaan gelisah setiap kali ia membuka mata. Tika, yang tidur di kasur lipat kecil di lantai, sempat terbangun juga dan mendapati Ranti duduk menatap kosong ke arah jendela jam tiga pagi.
"Nggak bisa tidur?" tanya Tika, suaranya serak karena baru bangun.
"Kepikiran terus," jawab Ranti. "Nggak tau harus benci dia atau kangen dia."
"Boleh kok, dua-duanya sekaligus," kata Tika, menguap. "Nggak ada aturan yang bilang perasaan harus rapi."
Ranti tersenyum kecil mendengar itu, meski senyumnya tidak bertahan lama sebelum kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.