Dua hari berlalu sejak berita tentang tawaran pengunduran diri Dimas, dan Ranti masih belum memutuskan apa pun, terjebak dalam pertimbangan yang berputar-putar tanpa titik temu setiap kali ia mencoba memikirkannya dengan kepala jernih.
Ia menghabiskan sebagian besar waktu itu bekerja lebih keras dari biasanya, menerima setiap tawaran tulisan lepas yang masuk tanpa pandang bulu, seolah menyibukkan diri dengan pekerjaan bisa menunda keharusan untuk memutuskan sesuatu yang jauh lebih personal. Tika beberapa kali menegurnya untuk istirahat, tapi Ranti selalu berkilah masih ada tenggat yang harus dikejar.
Di sela kesibukannya, ia sempat membuka kembali percakapan lama dengan Dimas di ponselnya, menggulir ke atas sampai pesan-pesan pertama mereka berbulan-bulan lalu—diskusi soal jadwal kamar mandi, daftar peraturan rumah tangga, hal-hal remeh yang dulu terasa formal tapi kini, dibaca ulang dengan mata yang berbeda, justru menyimpan kehangatan yang tidak pernah benar-benar ia sadari sebelumnya.
Ibunya, yang sudah mengetahui seluruh cerita lewat telepon panjang beberapa hari sebelumnya, mengunjunginya di kos Tika membawa rantang berisi masakan rumah, khawatir anaknya tidak makan dengan benar di tengah kekacauan ini.
"Ibu nggak akan maksa kamu ambil keputusan apa pun," kata ibunya, duduk di tepi kasur sambil mengelus rambut Ranti yang kusut. "Tapi Ibu cuma mau tanya satu hal—kalau seandainya nggak ada urusan uang sama sekali, kalau seandainya kondisi Bapak udah nggak jadi masalah, kamu masih mau lanjutin ini sama Dimas atau nggak?"
Pertanyaan itu menghantam Ranti lebih keras dari yang ia duga, karena selama ini, setiap kali memikirkan keputusan soal melanjutkan program, pertimbangan uang selalu menjadi lapisan pertama yang muncul di kepalanya—menutupi pertanyaan yang jauh lebih sederhana dan lebih jujur itu.
"Aku nggak tau, Bu," jawab Ranti, suaranya bergetar. "Aku marah sama dia. Tapi aku juga kangen... kangen sama cara dia dulu nemenin aku, sebelum semua ini kebongkar."
"Itu jawaban yang cukup jujur," kata ibunya, tersenyum kecil. "Kamu nggak harus punya jawaban sempurna sekarang. Tapi jangan biarin marah kamu yang mutusin semuanya, dan jangan juga biarin butuh uangnya yang mutusin semuanya. Cari yang di tengah-tengah itu, yang bener-bener kamu mau."
Ranti menatap ibunya lama, teringat betapa banyak hal yang selama ini tidak pernah ia ceritakan—bukan hanya soal program ini, tapi soal bagaimana ia selalu berusaha menyelesaikan masalah sendirian, meyakinkan diri bahwa itu caranya melindungi keluarga dari beban tambahan. Malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasa diizinkan untuk tidak punya jawaban yang rapi.