Ranti berdiri di depan pagar Graha Asri nomor 14 pukul lima sore, tangannya berkeringat memegang tali ranselnya sendiri, ragu sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk. Rumah itu tampak sama seperti tiga hari lalu ketika ia meninggalkannya dengan mata sembab—cat krem pucat di temboknya, rumput liar di halaman depan yang belum sempat dipangkas—tapi terasa asing sekaligus, seperti rumah orang lain yang kebetulan pernah ia tinggali.
Ia sempat berdiri agak lama di depan gerbang, memandangi jendela kamar yang biasa ia tempati, tirai putihnya masih tergantung sama seperti saat ia tinggalkan. Beberapa tetangga yang lewat menyapanya seperti biasa, tidak menyadari apa pun dari drama yang baru saja terjadi di balik pintu rumah nomor 14 itu—bagi mereka, Ranti tetaplah istri baru yang sempat "pulang ke rumah orang tua" sebentar, bukan seseorang yang baru saja menemukan kebenaran yang mengguncang seluruh pemahamannya tentang hubungan ini.
Sepanjang perjalanan dari kos Tika, ia sudah menyusun beberapa kali kalimat pembuka yang ingin ia ucapkan begitu bertemu Dimas—kalimat marah, kalimat dingin, kalimat yang menuntut penjelasan lengkap sebelum apa pun lainnya. Tapi begitu benar-benar berdiri di depan pagar itu, semua kalimat yang sudah ia latih hilang begitu saja, digantikan kekosongan yang lebih jujur daripada skrip mana pun yang bisa ia siapkan.
Dimas sudah menunggu di teras, berdiri begitu melihat Ranti muncul di ujung gang, tidak berani melangkah maju lebih dulu, seolah memberi ruang penuh bagi Ranti untuk menentukan kecepatan pertemuan ini.
Ia mengenakan kaos yang sama dengan yang ia pakai hari pertama mereka pindah ke rumah ini, entah disengaja atau kebetulan, tapi detail kecil itu tidak luput dari perhatian Ranti begitu ia cukup dekat untuk melihatnya jelas—seolah Dimas ingin mengingatkan keduanya pada titik awal yang sederhana, sebelum semua kerumitan ini dimulai.
"Hai," kata Dimas, sederhana, suaranya sedikit bergetar.
"Hai," jawab Ranti, berhenti beberapa langkah darinya, tidak langsung masuk ke dalam rumah.
Mereka berdiri canggung di teras itu untuk beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari yang sebenarnya, sampai akhirnya Dimas memecah keheningan. "Makasih udah mau dateng," katanya. "Aku nggak yakin kamu bakal beneran muncul."
Ada jeda singkat sebelum Ranti menjawab, matanya menyapu wajah Dimas yang tampak lebih kurus dari terakhir kali ia lihat, kantung mata yang lebih gelap menandakan malam-malam tanpa tidur yang cukup selama tiga hari terpisah ini.
"Aku juga nggak yakin," aku Ranti, jujur. "Tapi aku pikir, aku nggak bisa mutusin apa pun kalau aku terus-terusan lari."
Dimas mempersilakan Ranti masuk lebih dulu, mengikuti dari belakang dengan langkah yang sengaja ia perlambat, memberi jarak yang cukup agar Ranti tidak merasa terburu-buru memasuki kembali ruang yang penuh kenangan campur aduk itu. Ransel yang dibawa Ranti masih tergantung di bahunya, belum ia letakkan, seolah bagian dari dirinya masih menyiapkan opsi untuk pergi lagi kapan saja jika percakapan ini berjalan buruk.
Ruang tengah itu masih tertata sama seperti biasa, meski tanpa sentuhan Ranti selama tiga hari, debu tipis mulai terlihat di atas meja kaca. Dimas rupanya belum sempat—atau tidak tega—membersihkannya, seolah membiarkan ruang itu apa adanya sampai Ranti kembali dan memutuskan sendiri mau diapakan selanjutnya.