Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #24

BAB 22 — Yang Sebenarnya Dirasakan

Percakapan itu berlanjut jauh lebih lama dari yang keduanya duga, mengalir dari satu pengakuan ke pengakuan lain yang selama berminggu-minggu tertahan di balik kesibukan, kecanggungan, dan ketakutan masing-masing untuk terbuka lebih dulu.

Di luar, langit sudah berubah gelap sepenuhnya, lampu jalan kompleks menyala satu per satu, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang beranjak menyalakan lampu ruang tengah, membiarkan cahaya temaram dari luar jendela menjadi satu-satunya penerangan bagi percakapan yang terasa terlalu rapuh untuk diganggu pencahayaan terang.

"Aku mau tanya sesuatu," kata Ranti, setelah keheningan singkat. "Kalimat yang kamu nggak selesaikan waktu itu, di lorong fakultas. 'Aku nggak pernah rencanain jatuh—' jatuh apa, Dimas?"

Pertanyaan itu keluar setelah makan malam sederhana yang mereka masak bersama, mi instan dengan telur dan sedikit sayuran yang masih tersisa di kulkas—makanan paling sederhana yang pernah mereka buat sejak program dimulai, tapi entah kenapa terasa seperti perayaan kecil atas keberanian mereka berdua untuk kembali duduk semeja.

Dimas menatap lantai sejenak, mengumpulkan keberanian yang seharusnya sudah ia keluarkan berminggu-minggu lalu. "Jatuh cinta," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik tapi jelas. "Aku nggak pernah rencanain jatuh cinta sama kamu, Ranti. Itu bukan bagian dari protokol penelitian mana pun. Itu terjadi begitu aja, di luar semua kalkulasi yang pernah aku bikin."

Ia mengangkat wajahnya, menatap Ranti langsung untuk pertama kalinya sejak kalimat itu keluar, seolah butuh melihat reaksi Ranti secara langsung, tidak peduli seberapa menakutkan hasilnya nanti. Tangannya yang terlipat di pangkuan sejak tadi kini terbuka, gemetar halus yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

Kata-kata itu menggantung di udara, akhirnya diucapkan penuh setelah sekian lama hanya berupa isyarat dan kalimat setengah jadi. Ranti merasakan dadanya sesak oleh campuran perasaan yang sulit ia pisahkan satu sama lain—kelegaan karena akhirnya mendengar kejujuran itu, sekaligus ketakutan baru soal apa artinya bagi mereka berdua ke depan.

Ia teringat kembali percakapan dengan Tika di kos, tentang bagaimana boleh saja merasakan dua hal berlawanan sekaligus tanpa harus terburu-buru memilih salah satunya. Sekarang, duduk berhadapan dengan Dimas yang baru saja mengucapkan kata paling jujur yang pernah ia dengar dari mulutnya, Ranti merasakan persis kombinasi itu—lega dan takut, sekaligus, tanpa kontradiksi.

"Sejak kapan?" tanya Ranti, suaranya juga melemah.

"Aku nggak tau pastinya," jawab Dimas. "Mungkin sejak kamu demam itu, waktu aku sadar aku lebih peduli sama kamu sembuh daripada sama data penelitian. Atau mungkin udah lebih lama dari itu, cuma aku terlalu takut buat mengakuinya, apalagi mengingat gimana caranya kita ketemu."

Ia menunduk sejenak, tangannya meremas ujung kaosnya sendiri, gestur gugup yang jarang sekali diperlihatkan Dimas selama ini. "Setiap kali aku mau ngomong, aku selalu mikir, gimana kalau ini cuma bias aku aja karena aku yang milih kamu dari awal. Gimana kalau perasaan ini nggak valid, karena mulainya nggak wajar. Itu yang bikin aku terus nunda-nunda."

"Perasaan itu nggak butuh 'valid' atau nggak, Dimas," kata Ranti, pelan tapi tegas. "Perasaan itu ya cuma ada, atau nggak ada. Cara mulainya nggak ngubah apa yang beneran kamu rasain sekarang, di titik ini."

Lihat selengkapnya