Keputusan komite etik pusat akhirnya keluar seminggu kemudian, di hari ke-58, jauh dari yang diharapkan Ranti maupun Dimas. Dimas resmi dicopot dari posisinya sebagai co-peneliti program, dengan catatan pelanggaran protokol tercatat permanen dalam rekam jejak akademisnya—meski komite memutuskan tidak menjatuhkan sanksi lebih berat berkat pengakuan jujur dan langkah tanggung jawab yang ia ambil sendiri.
Surat keputusan resmi itu dikirim lewat email, dengan tembusan ke Prof. Herlina dan dekan fakultas. Dimas membacanya berulang kali di layar laptopnya, mencoba mencerna setiap kalimat formal yang, meski ditulis dengan bahasa birokratis yang dingin, menandai berakhirnya bertahun-tahun kerja keras yang selama ini menjadi kebanggaannya.
Ranti duduk di sampingnya ketika email itu datang, tangannya memegang bahu Dimas erat begitu melihat ekspresi wajahnya berubah pucat membaca kalimat demi kalimat. Tidak ada kata-kata yang bisa sepenuhnya meringankan pukulan itu, jadi ia memilih diam, membiarkan kehadirannya menjadi satu-satunya bentuk dukungan yang bisa ia tawarkan saat itu juga.
"Setidaknya kamu masih bisa lanjut S2," kata Ranti, mencoba mencari sisi baik dari keputusan itu, meski tahu betul betapa beratnya pukulan itu bagi Dimas yang sudah menghabiskan bertahun-tahun merancang penelitian ini.
"Iya," jawab Dimas, meski nada suaranya menunjukkan kekecewaan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Cuma harus cari topik baru buat tesis. Nggak masalah, aku yang bikin kesalahan, aku yang harus mulai ulang."
Prof. Herlina sendiri sempat menghubunginya lewat pesan singkat setelah keputusan resmi keluar, menyampaikan penyesalannya secara personal di luar nada formal surat keputusan itu. "Saya tetap percaya kamu punya masa depan cerah di bidang ini, Dimas. Anggap ini pelajaran mahal, bukan akhir dari segalanya," tulisnya. Dimas membaca pesan itu berkali-kali, mencoba menyerap sedikit penghiburan dari kata-kata mantan pembimbingnya, meski rasa kehilangan itu masih terlalu segar untuk benar-benar reda.
Bayu, yang mendengar kabar ini dari mulut Dimas sendiri, datang ke Graha Asri sore itu membawa sekotak donat, berusaha menghibur dengan caranya sendiri yang agak canggung. "Gue tau ini berat," katanya, "tapi minimal lo masih bisa lulus, cuma telat dikit. Banyak yang lebih parah dari ini."
"Makasih udah dateng, Yu," kata Dimas, tersenyum tipis, menghargai usaha sahabatnya meski tidak sepenuhnya berhasil mengangkat suasana hatinya.
Setelah Bayu pulang, Dimas duduk lama di teras, menatap kosong ke arah gang kompleks yang mulai temaram. Ranti mendekat, duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa, membiarkan keheningan menjadi bentuk dukungan yang paling tulus yang bisa ia berikan saat itu.
"Aku nggak nyesel," kata Dimas akhirnya, memecah keheningan. "Meski ini berat, aku nggak nyesel udah jujur dan nanggung konsekuensinya. Yang aku sesalin cuma kenapa aku nggak jujur dari awal, biar semua ini nggak perlu seberat ini."
Ranti menggenggam tangannya erat, tidak menawarkan kata-kata penghiburan yang berlebihan, hanya kehadiran yang konsisten. Mereka duduk seperti itu cukup lama, menyaksikan langit berubah dari jingga ke ungu tua, lampu-lampu rumah tetangga menyala satu per satu, kehidupan kompleks yang terus berjalan normal tanpa tahu apa pun tentang kerapuhan yang sedang mereka jaga bersama malam ini.
"Kalau kamu butuh nangis, nangis aja," kata Ranti pelan, memecah keheningan panjang di antara mereka. "Nggak usah gengsi di depan aku."