Hari ke-66 dimulai seperti hari-hari lain sejak rekonsiliasi mereka—kopi pagi bergantian, obrolan ringan sebelum Dimas berangkat mencari topik tesis baru ke perpustakaan kampus. Tapi minggu-minggu setelah pencopotan posisinya sebagai co-peneliti telah mengubah Dimas perlahan-lahan, dengan cara yang begitu halus sehingga Ranti baru benar-benar menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat untuk dicegah sejak awal.
Delapan hari sejak keputusan komite etik keluar, Dimas mulai menunjukkan tanda-tanda yang awalnya tampak wajar—diam lebih lama dari biasa, kurang nafsu makan, tidur larut memikirkan arah tesisnya yang harus dimulai dari nol. Ranti memaklumi semua itu sebagai proses berduka yang wajar atas kehilangan besar dalam kariernya. Tapi minggu kedua, tanda-tanda itu berubah jadi sesuatu yang lebih mengkhawatirkan—bukan lagi sekadar murung, melainkan jarak yang mulai terasa disengaja.
Dimas mulai pulang lebih malam, beralasan sedang mengejar bahan bacaan untuk topik tesis penggantinya. Ia menjawab pertanyaan Ranti dengan kalimat lebih pendek dari biasanya, matanya sering kosong menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun yang tertera di sana. Ranti awalnya memaklumi—kehilangan bertahun-tahun kerja keras bukan hal yang bisa dipulihkan dalam semalam—tapi setelah dua minggu berlalu tanpa tanda-tanda membaik, kekhawatiran itu mulai berubah jadi sesuatu yang lebih tajam.
Ia mencoba beberapa kali mengajaknya bicara dengan cara yang lebih lembut—menyiapkan camilan kesukaan Dimas, mengajak nonton film seperti kebiasaan lama mereka—tapi setiap usaha itu disambut dengan senyum tipis dan alasan sibuk yang semakin terasa seperti tembok, bukan jawaban. Puncaknya terjadi pada malam ketujuh sejak pola itu dimulai.
Selama tujuh hari itu, Ranti juga sempat mencoba mengajak Bayu bicara diam-diam, bertanya apakah Dimas cerita sesuatu padanya soal keadaannya belakangan ini. Bayu hanya menjawab samar bahwa Dimas memang sedang "banyak pikiran soal tesis", tanpa detail lebih jauh—entah karena memang tidak tahu lebih banyak, atau karena Dimas memintanya untuk tidak ikut campur. Jawaban ambigu itu, alih-alih menenangkan, justru menambah kegelisahan Ranti yang sudah mulai merasa disingkirkan dari bagian penting kehidupan orang yang paling dekat dengannya sekarang.
"Kamu udah tiga hari ini pulang lewat jam sepuluh," kata Ranti suatu malam, ketika Dimas akhirnya masuk rumah dengan wajah lelah, tas ranselnya dijatuhkan asal di sofa. "Aku ngerti kamu lagi berat, tapi kita kan udah janji nggak ada lagi yang dipendam sendirian."
"Aku nggak mendam apa-apa," jawab Dimas, nadanya lebih defensif dari yang ia maksudkan. "Aku cuma lagi sibuk cari topik baru. Itu aja."
Ia menghindari tatapan Ranti, sibuk melepas sepatunya sendiri lebih lama dari yang seharusnya diperlukan, gestur kecil yang justru semakin memperkuat kecurigaan Ranti alih-alih meredakannya.
"Beneran cuma itu?" desak Ranti, tidak puas dengan jawaban singkat itu. "Soalnya rasanya kayak kamu lagi jaga jarak dari aku, Dimas. Bukan cuma dari rumah ini."
Dimas terdiam, tidak langsung menjawab, memberi cukup waktu bagi kecurigaan Ranti untuk semakin membesar. "Aku cuma capek, Ranti," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan tapi juga lebih dingin. "Nggak semua hal harus dianalisis jadi masalah besar."
Kalimat itu, meski sederhana, menyentuh ketakutan terdalam Ranti yang sudah lama ia coba tekan sejak awal hubungan ini—ketakutan bahwa cepat atau lambat, orang-orang yang ia percayai akan mulai menjauh, persis seperti pola yang ia lihat berulang kali dalam hidupnya, dari bapaknya yang menyembunyikan kebangkrutan usahanya, sampai teman-teman yang perlahan menghilang begitu ia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri.
"Ini persis kayak yang aku takutin dari awal," kata Ranti, suaranya mulai bergetar. "Orang bilang mereka nggak akan nyimpen apa-apa lagi, terus tetep aja jaga jarak begitu keadaan jadi susah."