Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #27

BAB 25 — Jeda

Pagi setelah pertengkaran itu, rumah Graha Asri terasa seperti kuburan—sunyi, dingin, dan penuh oleh hal-hal yang tidak terucap. Ranti bangun lebih dulu, mendapati Dimas sudah tidak ada di rumah, hanya secarik kertas kecil di meja dapur bertuliskan: "Aku perlu waktu sendiri. Nggak lama, cuma butuh mikir. Jangan khawatir."

Ranti membaca catatan itu berkali-kali, mencoba mencari makna tersembunyi di balik kalimat sesingkat itu, tapi yang ia temukan hanyalah kekosongan yang sama seperti yang ia rasakan sejak semalam. Ironisnya, kali ini Dimas yang menjauh, situasi yang terbalik dari beberapa minggu lalu ketika dialah yang pergi ke kos Tika.

Ia memeriksa kamar Dimas sebentar, mendapati beberapa potong baju sudah tidak ada di lemari, tanda bahwa kepergiannya bukan sekadar jalan-jalan pagi untuk menenangkan diri, melainkan kepergian yang direncanakan, meski tidak jelas untuk berapa lama.

Ranti duduk di tepi kasur kosong itu, menatap ruang yang tiba-tiba terasa asing meski baru semalam ia tinggalkan dalam keadaan normal. Bantal Dimas masih berbekas kepalanya, selimut masih setengah terlipat, sisa-sisa kehidupan sehari-hari yang tiba-tiba terasa seperti jejak orang yang pergi tanpa kepastian akan kembali.

Ponselnya bergetar sekitar jam sepuluh pagi—bukan dari Dimas, melainkan dari Fira, menanyakan kabar untuk jurnal harian yang belum diisi sejak dua hari lalu. Ranti menjawab seadanya, tidak menjelaskan detail pertengkaran semalam, hanya mengatakan mereka sedang "butuh waktu terpisah sebentar", kalimat yang terasa terlalu ringan untuk menggambarkan beratnya apa yang sebenarnya terjadi.

Ia menghabiskan pagi itu duduk sendirian di teras, menatap kosong ke arah gang kompleks, memikirkan ulang setiap kalimat yang terlontar semalam. Kalimat "mungkin ini emang siapa kamu sebenarnya" terus terngiang, membuatnya menyesal telah mengucapkannya dengan begitu kejam, meski di saat yang sama ia juga masih merasakan sisa kemarahan atas cara Dimas menjauh tanpa penjelasan yang jelas selama dua minggu terakhir.

Tika menghubunginya siang itu, seperti biasa peka membaca situasi lewat balasan pesan Ranti yang lebih singkat dari biasanya. "Ada apa lagi?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi.

Ranti awalnya berusaha menjawab dengan santai, mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi Tika, yang sudah terlalu lama mengenalnya, tidak mudah percaya begitu saja. "Ranti, aku kenal kamu dari maba. Nada suara kamu itu jelas banget lagi nggak baik-baik aja. Cerita aja."

Ranti menceritakan semuanya lewat telepon, suaranya bergetar mengulang kalimat-kalimat yang mereka lontarkan semalam. "Aku nggak tau lagi, Tik," katanya di akhir cerita. "Aku pikir kita udah lewatin bagian tersulitnya waktu kita baikan minggu lalu. Ternyata masih ada lagi yang lebih berat nunggu di depan."

"Kamu masih inget nggak," tanya Tika, "waktu kamu bilang ke aku, boleh kok ngerasa dua hal sekaligus tanpa harus rapi? Sekarang coba terapin itu ke situasi Dimas. Mungkin dia juga lagi ngerasa dua hal sekaligus—sayang sama kamu, tapi juga malu abis-abisan sama dirinya sendiri. Dua-duanya bisa bikin dia keliatan kayak menjauh, padahal sebenernya dia lagi tenggelam sendirian."

Kata-kata Tika itu membuat Ranti terdiam, mempertimbangkan sudut pandang yang belum sempat ia pikirkan di tengah amarah semalam.

Lihat selengkapnya