Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #28

BAB 26 — Yang Ranti Temukan Sendirian

Dua hari berlalu tanpa kabar berarti dari Dimas, hanya satu pesan singkat mengabarkan ia baik-baik saja dan menginap sementara di kos Bayu. Ranti tidak membalas dengan tuntutan atau pertanyaan, hanya membalas "oke, hati-hati", memilih memberi ruang yang sudah lama seharusnya ia berikan sejak awal pertengkaran ini.

Rumah Graha Asri, tanpa kehadiran Dimas, terasa jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya. Setiap sudut yang biasanya dipenuhi obrolan atau setidaknya suara aktivitas kecil, kini hanya diisi detak jam dinding dan suara kendaraan samar dari luar. Ranti mendapati dirinya lebih sering duduk diam daripada biasanya, tanpa benar-benar melakukan apa pun, sekadar membiarkan pikirannya mengendap dalam kesunyian yang jarang ia izinkan sebelumnya.

Bayu sendiri sempat mengirim pesan singkat ke Ranti tanpa sepengetahuan Dimas, sekadar meyakinkan bahwa sahabatnya baik-baik saja secara fisik, meski jelas sedang bergumul dengan banyak hal secara emosional. "Dia banyak diem, tapi nggak apa-apa kok, Ran. Kayaknya emang butuh waktu buat mikir. Aku jagain di sini." Pesan sederhana itu memberi sedikit ketenangan bagi Ranti, mengetahui setidaknya ada orang lain yang menemani Dimas selama proses ini.

Ia membalas Bayu singkat, mengucapkan terima kasih, tanpa meminta detail lebih jauh soal apa yang sedang dipikirkan Dimas di sana. Ia sudah belajar, setidaknya sedikit, bahwa memaksa tahu segalanya justru sering kali memperburuk keadaan, bukan memperbaikinya.

Ia menghabiskan dua hari itu dalam kesendirian yang, anehnya, terasa produktif secara emosional—waktu yang jarang ia miliki untuk benar-benar duduk diam dan memeriksa ulang pola-pola dalam dirinya sendiri yang selama ini jarang ia akui secara terbuka.

Hari pertama sendirian, ia mengisi waktu dengan bekerja seperti biasa, tapi begitu malam tiba dan rumah kembali sunyi, pikirannya mulai mengembara ke tempat-tempat yang selama ini jarang ia kunjungi—kenangan masa kecil ketika ia belajar bahwa mengeluh hanya akan menambah beban orang lain, kebiasaan menyimpan masalah sendirian yang ia bawa sampai dewasa tanpa pernah benar-benar mempertanyakan apakah kebiasaan itu sehat atau justru merusak.

Hari kedua, ia mencoba metode berbeda—alih-alih membiarkan pikirannya mengembara tanpa arah, ia duduk dengan sengaja di lantai kamarnya, membawa selembar kertas kosong dan pulpen, mencoba menuliskan setiap ketakutan yang selama ini bersembunyi di balik kemarahannya pada Dimas. Daftar itu ternyata jauh lebih panjang dari yang ia duga—takut ditinggalkan, takut tidak cukup baik untuk dipertahankan, takut mengulang nasib orang tuanya yang bertahan dalam pernikahan penuh kesulitan tanpa pernah benar-benar bahagia.

Ia membuka kembali jurnal hariannya, menelusuri kembali catatan-catatan sejak hari pertama program dimulai, mencari benang merah yang mungkin selama ini luput dari perhatiannya. Ia menemukan pola yang cukup jelas—setiap kali menghadapi situasi yang mengancam rasa amannya, respons pertamanya selalu sama: menyimpulkan hal terburuk, menyalahkan diri sendiri karena berharap terlalu banyak, lalu bersiap kehilangan sebelum kehilangan itu benar-benar terjadi.

Pola itu, ia sadari, bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba sejak bertemu Dimas. Ia sudah membawanya sejak lama—sejak bapaknya menyembunyikan kebangkrutan usahanya demi "melindungi" keluarga, sejak ia belajar bahwa cara paling aman menghadapi ketidakpastian adalah dengan mengasumsikan yang paling buruk lebih dulu, supaya kekecewaannya tidak pernah benar-benar mengejutkan.

Ia teringat satu kejadian di sekolah menengah, ketika sahabat dekatnya waktu itu berhenti mengajaknya main karena orang tuanya melarang bergaul dengan "anak yang keluarganya lagi susah". Ranti tidak pernah benar-benar membicarakan itu ke siapa pun, hanya menyimpannya sebagai pelajaran diam-diam: lebih baik menjaga jarak duluan, daripada menunggu ditinggalkan. Kebiasaan itu, ia sadari sekarang, telah membentuk caranya merespons setiap tanda-tanda kecil penjauhan dari orang lain sepanjang hidupnya—termasuk dari Dimas beberapa hari lalu.

Ia juga teringat bagaimana pola yang sama muncul dalam cara ia menjalani pekerjaannya sebagai penulis lepas—selalu menyiapkan rencana cadangan, tidak pernah benar-benar bergantung penuh pada satu klien atau satu sumber penghasilan, seolah selalu bersiap kehilangan sewaktu-waktu. Kebiasaan itu membuatnya tangguh secara finansial, tapi ia mulai bertanya-tanya apakah kebiasaan yang sama, ketika diterapkan pada hubungan personal, justru menjadi penghalang alih-alih perlindungan.

Lihat selengkapnya