Kos Bayu tidak lebih besar dari kamar kontrakan mahasiswa pada umumnya—satu kasur lipat tambahan digelar di lantai, tumpukan buku kuliah di sudut, dan satu jendela kecil yang menghadap gang sempit di belakang kompleks kampus. Di ruang sesempit itu, selama dua hari, Dimas menghabiskan waktu lebih banyak menatap langit-langit daripada benar-benar membaca bahan bacaan tesis yang selalu ia jadikan alasan setiap kali Ranti bertanya ke mana perginya perhatian yang biasa ia berikan.
Hari pertama di kos itu, ia mencoba menyibukkan diri dengan benar-benar membaca jurnal-jurnal referensi untuk topik tesis barunya, tapi setiap beberapa halaman, pikirannya melayang kembali ke wajah Ranti semalam—terkejut, terluka, dan yang paling menyakitkan, kecewa dengan cara yang menunjukkan ia pernah berharap lebih dari yang bisa Dimas berikan saat itu.
Bayu, yang cukup peka untuk tidak banyak bertanya di hari pertama, akhirnya angkat bicara di malam kedua, setelah melihat Dimas hanya mengaduk-aduk mi instannya tanpa benar-benar memakannya.
"Lo tau nggak," kata Bayu, duduk di lantai berhadapan dengannya, "dari awal gue kenal lo, lo tuh orangnya selalu punya rencana buat segalanya. Skripsi, tesis, bahkan program penelitian aneh yang lo rancang sendiri itu. Tapi begitu ada satu hal yang di luar rencana lo—kayak jatuh cinta beneran sama subjek penelitian lo sendiri—lo malah nggak tau harus ngapain."
Dimas terdiam, meletakkan mangkuk mi instannya, membiarkan kalimat Bayu itu menembus pertahanan yang sudah ia bangun selama dua hari terakhir. Ia menatap uap tipis yang masih mengepul dari mi yang sudah mulai dingin, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kekacauan yang berputar di kepalanya.
"Aku takut," aku Dimas akhirnya, suaranya pelan. "Bukan takut sama Ranti. Takut sama diri aku sendiri. Aku ngerti banget teori soal kenapa hubungan gagal—ekonomi, keluarga besar, komunikasi yang buruk. Aku bahkan bikin protokol penelitian soal itu. Tapi begitu aku beneran ngalamin sendiri, kegagalan aku di kampus bikin aku ngerasa nggak pantes buat orang yang aku sayang, dan aku malah ngelakuin persis apa yang aku takutin dari orang tua aku dulu—diem-diem menjauh, padahal itu yang paling aku benci dari cara Bapak nanganin masalahnya."
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah jendela kecil kos itu, suaranya melembut mengenang sesuatu yang jarang ia ceritakan bahkan pada dirinya sendiri. "Waktu kecil, aku selalu mikir, kalau aku besar nanti, aku bakal jadi orang yang beda dari Bapak. Yang berani ngomong pas ada masalah, bukan yang milih diem sampai semuanya meledak. Ternyata segampang itu buat jatuh ke pola yang sama, walaupun aku udah nolak pola itu seumur hidup."
"Terus kenapa lo ulangin?" tanya Bayu, tidak menghakimi, murni penasaran.
Dimas menghela napas, mengusap wajahnya kasar. "Karena rasa gagal itu nggak pandang bulu, Yu. Dia nggak peduli teori apa yang lo pegang, dia cuma nyerang titik paling rapuh yang lo punya, dan buat gue, titik paling rapuh itu ya rasa takut nggak pantes dicintai."