Hari-hari setelah rekonsiliasi kedua itu berjalan dengan ritme yang berbeda dari sebelumnya—lebih hati-hati, lebih banyak percakapan jujur di teras setiap malam, lebih sedikit asumsi dan lebih banyak pertanyaan langsung setiap kali salah satu dari mereka terlihat murung. Utang rumah sakit perlahan lunas lewat cicilan yang disiplin, tesis baru Dimas mulai menemukan bentuknya meski dengan topik yang jauh lebih sederhana dari rencana awalnya, dan gosip keluarga besar Ranti perlahan mereda seiring waktu, digantikan topik-topik baru yang lebih menarik bagi Bibi Painah dan lingkarannya.
Mereka juga mulai membangun kebiasaan baru yang lebih sehat—setiap Minggu malam, mereka duduk berdua khusus untuk saling bertanya, "ada yang mengganjal minggu ini?" sebelum hal-hal kecil sempat menumpuk jadi masalah besar seperti yang pernah terjadi. Kebiasaan sederhana itu, meski kadang terasa kaku di awal, perlahan menjadi salah satu fondasi yang membuat mereka berdua merasa lebih aman satu sama lain.
Tanpa terasa, tiga puluh dua hari berlalu sejak rekonsiliasi di teras itu, membawa mereka pada pagi yang telah lama dinanti sekaligus ditakuti keduanya: hari ke-100.
Ranti terbangun pagi itu dengan perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan—sebagian dirinya masih tidak percaya bahwa seratus hari yang dulu terasa seperti waktu yang begitu panjang, kini benar-benar telah berlalu. Ia menatap langit-langit kamarnya yang sama seperti hari pertama, mengingat kembali betapa asingnya ruangan itu dulu, dan betapa akrabnya sekarang, dipenuhi kenangan yang jauh melampaui sekadar dekorasi dinding.
Dimas mengetuk pintu kamarnya pelan pagi itu, membawa secangkir kopi yang takaran gulanya sudah ia hafal luar kepala. "Siap buat hari terakhir?" tanyanya, tersenyum tipis, meski nada suaranya menyiratkan kegugupan yang sama besarnya dengan yang dirasakan Ranti.
"Nggak yakin," jawab Ranti jujur, menerima kopi itu. "Tapi kita jalanin aja, ya?"
Ia menyesap kopinya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu menjalar sebelum bangkit dari kasur, bersiap menghadapi hari yang akan menentukan bab baru dalam hidupnya, apa pun bentuknya nanti.
Prof. Herlina sendiri yang memimpin sesi penutupan program pagi itu, di ruang seminar yang sama tempat semuanya dimulai seratus hari lalu. Ranti dan Dimas duduk di sofa yang sama, meski kali ini tanpa kecanggungan yang dulu memenuhi ruangan itu di hari pertama.
Ruangan itu masih sama—dinding polos, meja kaca yang sama, bahkan bau kertas dan karbol yang sama seperti hari pertama mereka bertemu. Tapi dua orang yang duduk di sofa itu sekarang jelas berbeda dari dua orang asing canggung yang dulu duduk berjauhan menunggu penjelasan program. Kali ini, tangan mereka saling bertautan tanpa perlu dipikirkan, gestur alami yang seratus hari lalu masih terasa seperti akting yang harus dipelajari.
"Seratus hari," kata Prof. Herlina, membuka sesi dengan senyum yang tulus. "Kalian salah satu dari sedikit pasangan yang berhasil menyelesaikan program penuh, dengan dinamika yang, jujur saja, jauh lebih kompleks dari yang pernah kami antisipasi di awal perancangan protokol ini."
Ia membolak-balik map tebal berisi rekaman jurnal harian mereka selama seratus hari, sesekali berhenti di halaman-halaman tertentu, mengingat kembali detail-detail yang tercatat di sana—demam Ranti di hari ke-16, konflik map cokelat di hari ke-11, krisis rumah sakit di hari ke-31, sampai pertengkaran besar yang nyaris mengakhiri semuanya di hari ke-66.