Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #31

BAB 29 — Yang Kami Pilih

Pertanyaan Ranti menggantung di udara sore itu, membawa beban yang jauh lebih besar dari kata-katanya yang sederhana. Untuk pertama kalinya sejak seratus hari lalu, tidak ada kontrak, tidak ada dana penelitian, tidak ada Prof. Herlina atau Fira yang mengamati—hanya dua orang yang harus memutuskan sendiri, murni berdasarkan apa yang mereka rasakan dan mau, tanpa bingkai eksternal apa pun yang membantu mengambil keputusan.

Angin sore berembus pelan melewati teras itu, membawa aroma tanah basah dari hujan ringan yang baru saja reda. Ranti menatap ke arah gang kompleks yang mulai sepi, mengingat kembali pertama kali ia berdiri di tempat yang sama seratus hari lalu, koper di kedua tangan, tidak tahu apa yang menantinya di rumah asing ini. Sekarang, di tempat yang sama, pertanyaannya bukan lagi soal bertahan atau tidak, melainkan soal memilih dengan sadar, tanpa paksaan kontrak apa pun.

Dimas duduk di sampingnya, menatap ke arah yang sama, memikirkan jawabannya dengan sungguh-sungguh alih-alih menjawab spontan seperti biasanya. Bagi seseorang yang terbiasa merancang protokol dan menganalisis data, keputusan ini terasa berbeda—tidak ada variabel yang bisa dihitung, tidak ada hipotesis yang bisa diuji, hanya perasaan mentah yang harus ia percayai sepenuhnya.

"Aku udah mikirin ini beberapa hari terakhir," kata Dimas, memulai lebih dulu, tangannya sedikit gemetar meski suaranya berusaha tenang. "Dan aku pikir, aku mau lanjut. Bukan sebagai kontrak, bukan sebagai eksperimen penelitian. Tapi sebagai... kita. Beneran kita, dengan segala kerumitan yang menyertainya."

Ranti menatapnya lama, mempertimbangkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh sebelum menjawab. "Aku juga mikirin hal yang sama," katanya. "Tapi aku juga sadar, kalau kita lanjut, semua masalah yang selama ini kita hadapi nggak bakal otomatis hilang. Keluarga besarku masih bakal nanya-nanya. Ekonomi keluargaku masih bakal jadi beban buat dipikirin bareng. Kamu masih harus mulai ulang kariermu dari nol."

Ia menghela napas, melanjutkan dengan lebih jujur. "Aku nggak mau kita mulai ini dengan bayangan yang terlalu indah, terus kaget lagi begitu kenyataan datang. Aku pengen kita mulai ini dengan mata terbuka, tau persis apa yang bakal kita hadapi."

"Aku tau," jawab Dimas. "Dan aku nggak nawarin solusi ajaib buat semua itu. Aku cuma nawarin, kita hadepin bareng-bareng, dengan cara yang lebih jujur dari yang pernah kita coba sebelumnya."

Ia mengambil napas dalam sebelum melanjutkan, seolah butuh keberanian ekstra untuk kalimat berikutnya. "Aku juga mau minta maaf, sekali lagi, soal gimana semua ini dimulai. Aku tau kata maaf aja nggak cukup buat nutupin cara aku milih kamu diam-diam dulu. Tapi aku janji, sisa waktu yang kita punya, aku bakal pastiin kamu nggak pernah lagi ngerasa jadi 'subjek penelitian' dalam hidup aku. Kamu orang yang aku pilih tiap hari, bukan cuma sekali di awal."

Ranti tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca. "Itu bukan proposal paling romantis yang pernah aku denger," katanya, setengah bercanda, mencoba mencairkan bobot momen itu.

"Aku peneliti gagal, inget?" jawab Dimas, ikut tersenyum. "Romantisme bukan bidang keahlianku."

Lihat selengkapnya