Rumah Tangga Percobaan

Bobby Mahmud
Chapter #32

BAB 30 — Epilog: Delapan Bulan Kemudian

Graha Asri nomor 14 masih berdiri dengan cat krem pucat yang sama, meski kini rumput liar di halaman depan sudah rapi terpangkas—salah satu dari sekian perubahan kecil yang perlahan terjadi sejak Ranti dan Dimas resmi menjadi penyewa tetap, bukan lagi peserta program penelitian yang tinggal di sana atas biaya universitas.

Pagi itu, seperti biasa, Ranti bangun lebih dulu, menyeduh kopi untuk mereka berdua dengan takaran gula yang sudah ia hafal luar kepala sejak lama. Dimas muncul dari kamar—kamar yang sama yang dulu hanya dipakai untuk "pertunjukan" di depan tetangga, kini benar-benar mereka tempati bersama sejak tiga bulan lalu, keputusan yang mereka ambil pelan-pelan, tanpa terburu-buru, setelah keduanya benar-benar yakin siap untuk langkah itu.

"Kamu udah baca emailnya?" tanya Dimas, duduk di meja makan, laptopnya terbuka menampilkan draf bab tiga tesisnya yang baru.

"Belum, kenapa?" tanya Ranti, menyerahkan secangkir kopi.

"Prof. Herlina ngundang kita buat jadi pembicara tamu di sesi orientasi gelombang ketiga program itu," jawab Dimas, menggeser laptopnya agar Ranti bisa membaca sendiri undangan itu. "Katanya, cerita kita paling sering dijadiin rujukan tim peneliti buat ngejelasin soal 'ketahanan hubungan di tengah tekanan eksternal'. Beliau pikir bakal lebih berdampak kalau kita cerita langsung ke peserta baru."

Ranti membaca email itu dua kali, teringat kembali dirinya sendiri seratus hari lalu, duduk gugup di ruang tunggu fakultas yang sama, sama sekali tidak menduga bahwa kontrak seratus hari itu akan membawanya sejauh ini.

Ia meletakkan cangkirnya, menatap Dimas dengan ekspresi campuran geli dan haru. "Kalau ada yang bilang ke aku seratus hari lalu, waktu aku duduk deg-degan nunggu wawancara, bahwa nanti aku bakal diundang balik buat 'ngajarin' orang lain soal hubungan, aku pasti ngetawain orang itu."

"Sama," jawab Dimas, tersenyum. "Terutama kalau yang ngasih tau itu bilang alasannya karena hubungan kita nyaris bubar dua kali sebelum akhirnya beneran solid."

"Kita jadi bahan studi kasus," katanya, setengah tertawa. "Nggak nyangka drama kita berguna buat orang lain."

"Justru itu intinya," jawab Dimas. "Kalau cerita kita bisa bantu pasangan lain nggak ngulang kesalahan yang sama kayak kita, kenapa nggak?"

Dua minggu kemudian, mereka berdiri di ruang seminar fakultas yang sama, tempat semuanya dimulai—kali ini bukan sebagai peserta yang gugup menandatangani kontrak, melainkan sebagai pembicara yang diminta membagikan pengalaman kepada delapan pasangan baru gelombang ketiga yang duduk berjajar dengan ekspresi campuran penasaran dan cemas, persis seperti ekspresi Ranti dan Dimas dulu.

"Kalian mungkin mikir," kata Ranti, membuka sesi dengan suara yang jauh lebih tenang dibanding dirinya seratus hari lalu, "kalau ketahanan hubungan itu soal seberapa jarang kalian berantem. Faktanya, kami berantem lebih dari yang pengen kami akui di depan kalian sekarang. Dua kali nyaris beneran bubar."

Beberapa peserta baru saling melirik, jelas terkejut dengan kejujuran blak-blakan itu.

"Yang bikin kami masih di sini," lanjut Dimas, "bukan karena kami berhasil menghindari masalah besar—ekonomi, keluarga, ego masing-masing. Tapi karena kami belajar, pelan-pelan dan menyakitkan, buat berhenti lari setiap kali masalah itu datang."

Sesi tanya jawab berjalan lebih hidup dari yang mereka duga. Salah satu peserta, perempuan muda dengan raut wajah yang mengingatkan Ranti pada dirinya sendiri di hari pertama, bertanya, "Gimana kalau pasangan kita ternyata nyimpen rahasia besar, kayak yang kalian alami? Apa itu artinya fondasinya emang udah salah dari awal?"

Ranti dan Dimas saling melirik sebelum Ranti menjawab. "Fondasi yang salah di awal bukan berarti nggak bisa dibangun ulang," katanya. "Yang penting, begitu rahasia itu kebongkar, apa yang dilakuin setelahnya. Jujur nanggung konsekuensi, atau malah nambah kebohongan baru buat nutupin yang lama."

Peserta lain, seorang pria yang duduk di barisan belakang, mengangkat tangan. "Kalau keluarga besar terus-terusan ikut campur, gimana cara kalian nanganinnya tanpa harus milih antara pasangan atau keluarga?"

Lihat selengkapnya