Rona senja sore itu beranjak memudar diikuti langit yang perlahan-lahan mulai gelap,. Neysha duduk di sofa dengan boneka kecil di pangkuannya. Televisi menyala keras, menyiarkan berita yang tak pernah ia pahami. Ayahnya berbaring sambil memainkan ponsel, matanya terpaku pada layar, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Denting suara piring dan suara sendok terdengar beradu, ibunya sibuk menyiapkan makan malam sambil sesekali menenangkan anak keduanya yang saat itu masih berusia tiga tahun .
Meski rumah itu terdengar bising, di antara semua suara itu, Neysha merasakan hening. Tidak ada percakapan antara satu sama lain, tidak ada tanya kabar, keadaan setiap harinya. Hanya rutinitas yang berulang setiap hari. Sesekali gadis itu ingin bercerita tentang nilai ulangannya, tentang teman baru di sekolah, tentang mimpi aneh yang ia alami semalam, bahkan tentang masalah yang dihadapinya. Tapi kata-kata itu tertahan, seolah tak ada ruang yang sudi mendengar.
Di ruang tengah meja makan besar berbentuk bulat berdiri kokoh namun tiada interaksi, makanan tersaji di atasnya, namun anggota keluarga itu hanya mengambil seperlunya lalu pergi, aturan makan di meja makan pun sudah tidak lagi ada di keluarga ini. “Harusnya seperti keluarga Rissa yang makan bareng di meja makan, bukan Ayah yang hanya makan sambil main HP, ibu yang ambil nasi lalu pergi.”
Di malam itu, sebelum tidur, Neysha menatap langit-langit kamar. Ia berbisik pada dirinya sendiri, seolah membandingkan keluarganya dengan keluarga lain yang hangat. Benaknya berkecamuk memikirkan kata-kata ibu yang selalu menuntutnya disiplin, rajin dan berprestasi, seperti anak tetangga. Lamunannya semakin dalam, Neysha yang baru berusia 10 tahun ini sepertinya sudah muak selalu dibanding-bandingkan, kata-kata ibu rasanya menusuk ke dalam hatinya, hanya saja rasa sakit itu belum mampu diungkap olehnya, yang ia bisa lakukan hanya mengatakan “Iya Ibu.”
Waktu pun terasa lebih cepat berlalu dari bayanganya, kini Neysha resmi lulus dari Sekolah Dasar dan membawa Neysha duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Ney harus beradaptasi di sekolah barunya tanpa seorang teman yang ia kenal sebelumnya, jarak antara rumah ke sekolah Neysha pun cukup jauh, 20 km, transportasi di daerah itu terbilang susah hingga akhirnya Ayah dan Ibu bergantian mengantarnya ke sekolah, biasanya Ayah jatah mengantar dan Ibu menjemputnya.