Masa remaja Neysha terasa lebih cepat berlalu dari yang dibayangkannya, teman-teman yang mulai akrab kini mulai memisah seiring perjalanan dan kepentingan masing-masing, mereka diterima di sekolah berbeda-beda bahkan di kota yang berbeda juga. Rasanya baru kemarin beradaptasi, kali ini momen itu harus terulang lagi. PPDB kali ini cukup menguras hati untuk Neysha, di mana dua sekolah negeri yang ia impikan gagal lolos, akhirnya ia harus berbesar hati menerima takdir bersekolah di sekolah swasta islam.
Di momen ini Ney dipaksa untuk berjilbab selama berada di lingkungan sekolah, pengalaman kali ini tentu berbeda dari sebelumnya di mana Ney yang memang sudah ikut menjadi mualaf bersama keluarganya sejak kelas 5 SD belum pernah melakukannya. Tak hanya berhijab, salat lima waktu diatur sangat ketat di sekolah ini. Seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti salat jamaah dzuhur dan ashar. Tak hanya itu semua siswa juga diwajibkan salat duha setiap istirahat pertama di jam 09.00 hingga 10.00 WIB.
Aturan sekolah ini soal agama cukup keren di mana hukuman yang diberikan kepada setiap siswa yang melanggar aturan tidak jauh-jauh dari akhlak dan aqidah. Di mana siswa yang ketahuan bolos di jam pelajaran dihukum dengan wajib laporan salat tahajud selama satu minggu, siswa yang telat masuk sekolah akan mendapatkan hukuman hafalan doa dan surat-suat pendek. Di balik aturan yang ketat itu ternyata menjadi pondasi spiritual Neysha di masa depan, sekarang aturan itu belum terasa manfaatnya untuk Neysha, dia masih biasa-biasa saja, sebab orang tuanya pun juga tidak terlalu agamis.
Masa SMA membuat Neysha merasa semakin dikekang. Aturan sekolah yang ketat, ditambah rumah yang dingin tanpa komunikasi, membuatnya mencari pelarian. Ia mulai mencoba hal-hal kecil yang dianggap “nakal”: bolos sekali-sekali, pura-pura sakit agar tidak ikut salat dhuha, atau nongkrong diam-diam dengan teman-temannya di warung dekat sekolah. Semua itu bukan karena ia ingin melawan, tetapi karena ia merasa tidak punya ruang untuk bercerita dan dimengerti.
Ketika akhirnya Neysha diterima di sebuah perguruan tinggi di Semarang, hatinya berbunga. Ia melihat kesempatan untuk keluar dari rumah yang penuh keheningan, mencoba hidup mandiri, dan menemukan dirinya sendiri. Namun, kabar bahagia itu berubah jadi konflik ketika ibunya menolak. Bu, aku diterima di Universitas Negeri Semarang. Aku seneng banget, akhirnya bisa kuliah di kampus yang aku impikan,” ucap Neysha dengan wajah yang berbinar sambil memperlihatkan hasil SNMPTN miliknya.
“Semarang itu jauh, Ney. Kamu nggak usah kuliah di sana. Cari yang dekat saja, biar gampang diawasi,” ucap Ibu dengan muka yang masam, kata-kata ibu itu pun langsung menghujam hati Neysha yang langsung menemukannya. Ia menganggap ibu tak menghargai perjuangannya selama ini, les, belajar setiap hari dan prestasi yang dipertahankannya sejak kelas X. “Bu… kita jarang ngobrol. Sekalinya ngobrol, selalu soal larangan. Aku pengen coba hidup mandiri, belajar tanggung jawab. Aku nggak mau terus merasa dikekang,” ucapnya sambil berlari ke kamar menyembunyikan seluruh kekecewaan itu.