Sesampainya di rumah dengan kepala pening, Neysha mendapati suasana berbeda. Ayah dan ibu memanggilnya serta Kenzo, adiknya, untuk duduk di ruang tamu. Baru kali ini ruang tamu keluarga itu hidup, terdengar suara bukan oleh suara keras, melainkan oleh ketegangan yang memenuhi udara. “Kita pindah pekan depan. Bisnis Ayah sudah bangkrut, rumah ini nggak bisa kita pertahankan. Kalian harus ngerti kondisi keluarga sekarang.” pinta Ayah. Ibu (menambahkan dengan suara lelah “Kami minta kalian berdua bisa menyesuaikan. Jangan banyak protes. Kita harus bertahan.” Neysha menunduk, dadanya sesak. Pindah ke rumah kecil semakin menegaskan rasa tidak berharga yang sudah lama ia pendam.
Ayah lalu menatap Neysha lebih tajam. “Ney, kuliahmu harus selesai dengan baik. Jangan sampai masalah pribadi ganggu. Ayah tahu kamu dekat dengan Reyno sejak kelas tiga SMA. Beberapa kali dia antar kamu pulang. Jangan sampai hubungan itu bikin kamu lalai.” “Reyno…? Ayah tahu?”. “Tentu saja. Jangan kira kami buta. Kamu harus fokus. Jangan bikin masalah baru.”
Setelah percakapan tegang di ruang tamu, Neysha masuk ke kamarnya dengan langkah berat. Ruangan itu terasa semakin sempit, seakan ikut menekan dadanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah dinding yang mulai mengelupas catnya. “Kenapa semua harus begini? Rumah mengecil, hati mengecil. Ayah bicara ketus, seolah aku cuma beban. Aku bahkan nggak bisa cerita ke Rose… aku malu. Aku takut dia lihat aku lemah.” Air matanya jatuh perlahan, tapi segera ia hapus dengan kasar. Neysha sudah terbiasa menekan perasaan, berpura-pura kuat, menormalisasi rasa sakit. Namun malam itu, rasa kosongnya semakin nyata.
Keesokan harinya, Neysha akhirnya memberanikan diri untuk bercerita kepada Reyno. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat kampus, suasana siang itu cukup ramai, tapi bagi Neysha, dunia seakan menyempit hanya pada percakapan mereka. “Rey… aku harus pindah. Usaha ayah bangkrut, jadi minggu depan kami pindah ke rumah yang lebih kecil. Rasanya… semua makin berat.” ucap Neysha lirih sambil menunduk.
Sementara itu Reyno menatap Neysha penuh kasih “Ney, jangan merasa sendiri. Aku tahu ini sulit, tapi aku ada buat kamu. Dari dulu aku sayang sama kamu, dan aku nggak akan ninggalin kamu sekarang.” Mendengar kalimat itu, Neysha terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia tahu Reyno tulus, berbeda dari dinginnya rumah yang ia tinggali.
Reyno bukan hanya mendengarkan, ia juga mencoba memberi solusi. “Kita bisa bikin sesuatu bareng yuk. Aku udah lama kepikiran bisnis kecil-kecilan. Mungkin jualan online atau bikin jasa desain sederhana. Atau bahkan jualan makanan, kamu kan pinter masak, aku rasa kalau kita bisnis bareng bisa jadi tambahan uang jajan buat kita berdua.” Neysha tersenyum tipis, masih ragu. “Bisnis? Kamu yakin kita bisa?” Reyno menjawab pertanyaan kekasihnya itu dengan mantap “Yakin. Aku percaya sama kamu. Kita mulai dari kecil dulu, yang penting jalan. Kamu nggak harus terus merasa nggak berharga, Ney. Kita bisa buktiin kalau kita mampu.”
Setelah berbicara panjang lebar dengan Reyno, keduanya pun harus melanjutkan kegiatannya masing-masing, Reyno kembali kuliah, sementara Ney ke rumah Rose untuk mengerjakan tugas bersama. “Ney, tunggu sebentar aku bukain pintu,” ucap Rose dari lantai dua setelah melihat Neysha sudah berdiri di luar rumahnya. Neysha hanya tersenyum dan memberikan kode kepada Rose. “Ya udah, aku lanjut kelas dulu ya, nanti pulang jangan malem-malem biar masih ada bis, kabarin kalau udah sampai rumah,” ujar Reyno.Senyuman masih tertinggal di wajah Neysha setelah Reyno pergi. “Siapa tuh?” tanya Rose dengan nada menggoda. “Kaget sumpah, ya ampun Rose,” jawab Neysha.
Tuga kelompok ini nyatanya banyak menyita waktu Rose dan Neysha, kurang lebih empat jam mereka berdiskusi dan mencoba memecahkan permasalahan dalam tugas yang diberikan Profesor Ali ini, tak terasa Mama dan Papa Rose pulang. “Eh ada tamu,” ujar Mama. “Halo tante, Neysha,” ucap Ney sopan menyapa Mama dan Papa Rose. Tak berselang lama Mama Rose pun menyiapkan makanan untuk mereka, Neysha pun diajak untuk makan bersama mereka di meja makan. “Neysha, ini tambah nasinya, masa sedikit gitu,” ujar Mama Rose.”Jangan malu-malu Ney, anggap kayak rumah sendiri,” imbuh Papa Rose. “Terima kasih om, tante,” jawabnya singkat.