Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini Neysha sudah berada di semester akhir kuliahnya. Banyak hal yang telah ia lalui: konflik dengan ibunya, rasa kesepian di rumah, hingga perjuangan batin menerima kenyataan bahwa orang tuanya bangkrut.
Awalnya, kabar kebangkrutan itu membuatnya hancur. Ia sempat merasa malu, takut dibandingkan dengan teman-temannya yang masih bisa hidup nyaman. Namun perlahan, Neysha belajar menerima. Ia sadar bahwa kebangkrutan bukan akhir segalanya, melainkan awal untuk membangun kembali dengan cara yang lebih sederhana.
Di kampus, ia menemukan ruang aman. Tugas-tugas, diskusi, dan teman-teman menjadi pelarian sekaligus penguat. Selain itu Ney juga membangun bisnis kuliner kecil-kecilan bersama Reyno kekasihnya, aa mulai melihat bahwa hidup bukan tentang materi semata, melainkan tentang keteguhan hati.
“Aku mungkin tidak punya rumah yang hangat, tapi aku punya kekuatan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Salah satunya Reyno, dia bukan cuma pacar, tapi juga lelaki impian. Aku ingin suatu saat nanti bisa tinggal seatap dengannya, merasakan tulus kasihnya, dan membina rumah tangga dengan keluarga kecil., sekarang tugasku cuma selesaikan kuliah dan setelah itu aku ingin berjuang bersama Reyno sebagai pasangan halal,” ucapnya dalam hati sambil meratapi sosok pria dengan kulit sawo matang dan rambut ikal ini.
“Ney, minum dulu. Kamu kelihatan capek banget.” ujar Reyno sambil menyodorkan segelasa air.
Neysha (menerima gelas itu sambil tersenyum, “Terima kasih, Rey. Iya, akhir-akhir ini rasanya berat. Tapi aku bersyukur kamu selalu ada.”
Reyno menatap serius ke arah Neysha, “Aku tahu kondisi keluargamu bikin kamu banyak mikir. Tapi aku lihat kamu makin kuat. Bisnis kecil kita aja bisa jalan karena kamu nggak pernah menyerah.”
“Kadang aku masih malu, Rey. Orang tuaku bangkrut, rumahku dingin… tapi kamu tetap di sini. Aku takut nggak bisa kasih apa-apa.” balasannya sambil menunduk.
Momen itu menjadi kian romantis saat Reyno menggenggam tangan Neysha, “Ney, aku nggak butuh kamu kasih apa-apa. Aku cuma butuh kamu. Kita bisa bangun semuanya dari nol, bareng-bareng. Kamu bukan beban, kamu justru alasan aku semangat.”
“Rey… aku ingin suatu saat nanti kita bisa tinggal seatap, membina keluarga kecil. Aku ingin berjuang sama kamu, bukan cuma sebagai pacar, tapi sebagai pasangan halal.” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Obrolan manis sore itu pun ditutup dengan senyum hangat Reyno yang juga memimpikan hal yang sama, “Itu juga impian aku, Ney. Selesaikan kuliahmu dulu, habis itu kita wujudkan mimpi kita. Aku janji, aku akan selalu ada di sampingmu.”
Semester akhir bukan hanya tentang skripsi bagi Neysha, tapi juga tentang membangun mimpi bersama Reyno. Mereka berdua merintis bisnis kuliner kecil-kecilan dengan modal seadanya. Awalnya hanya berupa gerobak sederhana di depan kampus, menjual makanan ringan seperti nasi bakar, roti bakar, dan minuman segar.
“Ney, lihat deh… meski cuma gerobak kecil, banyak mahasiswa yang suka. Kita bisa kembangin ini jadi lebih besar.”
Neysha tersenyum, lelah tapi bahagia “Iya, Rey. Aku nggak nyangka usaha kita bisa diterima. Rasanya semua kerja keras terbayar.”