Kurang lebih satu bulan Neysha sudah mencoba istiqarah dalam menentukan arah masa depannya, berbeda dari kebanyakan cerita tentang salat istiqarah Ney tidak mendapatkan jawaban apa pun melalui mimpi, bedanya kali ini segala urusannya dengan Ary menuju pernikahan dipermudah, mulai dari Ayah yang sulit memberikan resti tiba-tiba mempermudah dan tidak menuntut apa pun dari Ary, ayah dan ibu Ney hanya menanyakan tentang salat pemuda 26 tahun itu.
“Ibu sama ayah setuju kalau memang tahun ini Neysha mau menikah dengan Ary, Ibu sama Ayah nggak menuntut apa pun, satu yang mau ibu tanyakan, salatnya Ary gimana?”
Percakapan malam sebelum tidur itu menjadi percakapan serius yang tidak disadari oleh Ney, jawabannya pun mengalir jujur tanpa bumbu apa pun. “Kalau setau aku sih dia belum adzan udah ke masjid buat jamaah, setahu aku dan selama aku kenal dia begitu,” jelasnya.
“Laki-laki itu yang dilihat dari cara dia salat, kalau perintah agama yang paling wajib aja ditinggalin apa lagi yang lain, syukurlah kalau Ary salatnya baik, InsyaAllah dia juga baik buat kamu Ney,” tutup ibu.
Bukan hanya ibu, Rose, Eliza, Risa, Luna, sahabat-sahabat Ney pun gampang memberikan restu Neysha menikah dengan Ary, Eliza, sahabat Ney dari SMA ini orangnya kaku banget, beberapa tahun lalu setelah Ney putus dari Reyno, Elz menjadi salah satu orang yang paling protektif sama Neysha, beberapa cowo yang pengin kenal sama Ney sempat dihalau sama Elz karena dia nggak mau sahabatnya sedih lagi. Tapi kali ini Elz jadi salah satu orang yang negbet banget ngelihat Ney nikah sama Ary.
Simple saja, Elz sempat bertemu Ary saat mereka double date beberapa waktu lalu, Neysha sama Ary, Elz sama pacarnya, Arga, mereka berempat sempat makan malam bersama di cafe langganan mereka sejak masih kuliah. Momen itu berjalan normal, di mana Elz melihat langsung cara Ary memperlakukan Ney layaknya princess, dalam hatinya berujar belum pernah melihat laki-laki sebaik ini memperlakukan sahabatnya.
“Kaykanya bener deh si Ary itu jodoh kamu, dia baik, baik banget, inget nggak minggu kemarin waktu kita makan di Ajje, pas kamu nggak sengaja jatuhin sendok, dia langsung ambil action nutup pinggiran meja biar kamu nggak kepentok, OMG Ney, itu sih sweet banget,” kata Eliza yang malam itu sempat menginap di rumah Neysha.
“Baik sih, dia juga minta dilibatkan dalam kehidupanku, cuma aku udah istiqarah, aku nggak dapet jawaban apa pun dalam mimpi, malah ini udah ada aja tanggal pernikahannya,” balas Ney.
“Serius? Kapan? udah mungkin jawaban dari Allah emang nggak lewat mimpi, tapi lewat kemudahan yang dikasih sampai sejauh ini, kalau memang pernikahan itu terjadi, ya memang dia takdir kamu, kalau bukan takdir nggak akan sampai sejauh ini sih. Bismillah Ney,” kedua sahabat itu pun saling berpegangan tangan.
Waktu berlalu begitu cepat hingga membawa takdir Neysha pada pernikahan, di sela-sela mempersiapkan pernikahan rezeki mengalir deras untuk Neysha dan keluarganya, ayahnya yang sempat bangkur perlahan-lahan mulai bangkit, ia berhasil membeli satu unit rumah kecil yang dipersembahkan sebagai hadiah pernikahan putri sulungnya. Tak hanya itu, sebelumnya keluarga ini cuma punya aset yakni rumah tinggal dan motor butut satu-satunya, tapi sebelum pernikahan itu terjadi ayah mendapatkan rezeki satu motor dan satu mobil baru. Meski rezeki ini tidak sebesar waktu kejayaan ayah dulu, ini sudah lebih dari cukup, mereka pun bisa menggelar pesta pernikahan sederhana di dua tempat sekaligus.