Hari pertama setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri terasa berbeda bagi Neysha. Ia bangun dengan perasaan campur aduk: bahagia, gugup, sekaligus penuh harapan. Namun, kebahagiaan itu mendadak terguncang ketika Ary membuka percakapan serius di depan meja rias kamarnya..
“Ney, aku ingin kita mulai hidup sederhana dulu. Untuk kebutuhan sehari-hari, kita pakai gaji kamu, semenyata gajiku akan aku simpan khusus untuk membangun rumah. Aku janji, dalam enam bulan kita sudah punya rumah sendiri.”
Neysha terdiam. Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Ia tahu gajinya tidak besar, hanya cukup untuk kebutuhan pribadi sebelum menikah. Kini, ia harus menanggung biaya hidup berdua. Tanpa bantahan Ney menyetujui permintaan Ary meski di hatinya masih sangat mengganjal.
Baru sehari setelah sah menjadi suaminya, Ary sudah berbeda 180 derajat dari waktu mereka pacaran, di mana pada momen itu Ary benar-benar meratukan Neysha, ia minta dilibatkan 100 persen dalam kehidupan Neysha, urusan makan dan lain-lain Ary selalu berusaha sediakan. Saat pacaran Ney memang tak mau banyak menerima pemberian Ary, ia paham betul pacaran tidak seharusnya di provide.
Sikap Ary yang begitu meragukan Ney saat mereka masih pacaran itu juga menjadi salah satu alasan Ney mau menikah dengan pria yang satu tahun lebih tua darinya itu.Dalam benaknya ia yakin Ary adalah sosok pria bertanggung jawab dan sayang pada keluarga kecilnya. Namun pagi itu tanda-tanda kecil soal siapa sosok Ary sebenarnya sudah terlihat namun tidak dibaca oleh Neysha.
Satu bulan berlalu ternyata gaji Ney tidak cukup untuk menanggung kehidupan mereka berdua, uang makan berdua, transport, kebutuhan rumah semuanya ditanggung Neysha, bahkan diam-diam ia sudah menggunakan separuh dari tabungan yang seharusnya digunakan untuk membeli HP baru. Ney berusaha memupus harapannya memiliki HP baru yang sudah lama diidamkannya demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Satu bulan juga mengemban beban berat sebagai tulang punggung keluarga Neysha pun jatuh sakit, di mana ia mengeluhkan nyeri hebat di perutnya yang. Biasanya saat masih tinggal bersama Ibu dan Ayah, keluhan kecil pun langsung direspons, tapi kali ini Neysha berurusan dengan sosok yang tidak tahu perannya sebagai suami yang seharusnya memberikan rasa aman.
“Ar, perut bagian bawah sakit banget, bisa tolong ambilin minyak kayu putih nggak?” ujar Ney.
Di pertengahan bulan dengan sisa gaji yang sangat mepet mengharuskan Neysha memeriksakan kondisinya ke dokter, Di mana suaminya? ikut dan menamani namun pembayaran senilai Rp400 ribu itu tetap ditanggung oleh Neysha. Berdiri di ruang administrasi rumah sakit, Ney meremas tangannya melihat tagihan dan sisa gaji yang ada di rekening utamanya, dengan terpaksa mengeluarkan kartu ATM berisi uang tabungan yang sudah lama dikumpulkannya. Sementara suaminya masih petantang-petenteng.
“Dulu kalau ngeluh sakit, langsung diantar Ayah atau Ibu ke dokter, nggak mikirin biaya berobat, selalu dapet fasilitas kesehatan yang bagus, sekarang Ya Allah periksa harus bayar sendiri, mana mahal banget,” ujarnya dalam hati.