Rumah Tangga Tanpa Iman

Gabriella Gunatyas
Chapter #8

Remuk

Setelah Neysha mengkonfrontasi Ary dengan penuh keberanian, suasana rumah menjadi tegang. Ary yang biasanya menghindar dari tanggung jawab, kali ini tidak bisa lagi bersembunyi di balik janji-janji kosong. Ia terdiam, wajahnya pucat, seolah baru menyadari bahwa istrinya benar-benar muak dengan semua kebohongan yang ia bangun.

Neysha, dengan suara bergetar namun tegas, berkata bahwa ia tidak akan lagi menanggung beban finansial seorang diri. Ia menuntut Ary untuk menunjukkan bukti nyata dari gaji yang selama ini ia simpan. Ary mencoba berkelit, mengatakan bahwa uang itu masih ada dan hanya menunggu waktu yang tepat. Namun Neysha tidak lagi percaya.

Konflik semakin memanas ketika Neysha menyebutkan bahwa ia lebih memilih hidup mandiri bersama rumah pemberian ayahnya daripada terus terjebak dalam pernikahan yang penuh kebohongan. Kata-kata itu membuat Ary tersentak. Untuk pertama kalinya, ia merasa kehilangan kendali atas Neysha.

Di malam itu, Neysha duduk sendirian di kamar, menatap ke luar jendela. Hatinya hancur, tetapi ada secercah kekuatan baru yang tumbuh. Ia mulai menyadari bahwa cinta tanpa tanggung jawab hanyalah ilusi.

“Emang bener ya pernikahan tuh kayak gini, isinya capek doang? Kerja buat kebutuhan rumah, nyukupin makan sampe listrik, bayar sampah, arisan. Mana punya suami banyak mau, ngopi fancy tiap hari.”

“Rumah berantakan betah banget ngeliatnya, kalo nggak aku ga bakal ada yang bersihin, padahal di rumah ini ada dua orang. Lantai kotor nggak disapu, boro-boro di pel, selesai makan boro-boro piringnya dicuci, dianter ke wastafel sama sisa makanannya dibuang ke tempat sampah aja enggak, gongnya lagi abis buang air kecil nggak pernah disiram.”

“Gila sih itu pelajaran sebelum TK yang aku dapet dari Ibu, kok bisa setua ini hal-hal kayak gitu aja ga becus. Coba si Ary anak Ibu pasti habis dia dimaki-maki udah tua hal-hal basic aja ga mutu.”

“Gilanya pernikahan tuh sebegininya banget ya, di pikiranku dulu menikah itu saat kita udah sama-sama dewasa, nggak cuma umur tapi mateng secara semuanya, hal-hal kecil yang ga teratur itu harusnya urusan dia sama ibunya waktu kecil, kenapa aku dibuat stress sama kelakuan nggak masuk akalnya.

“Gini nih kalo tinggal di negara yang mayoritas masyarakatnya mendewakan anak laki-laki, tapi keras ke anak perempuan. Perempuan dewasa nggak bisa masak, beres, udah deh dihina sampai ke nenek buyutnya, sejak kecil dididik hidup mandiri, bisa ngerjain kerjaan rumah, tujuannya ini toh biar bisa lanjutin ngetreat suami seperti yang dilakukan ibunya? Ga sudi sih asli, masak, beberes, menjaga kebersihan itu basic of life bukan tugas perempuan!” guamnya dalam hati.

Neysha duduk lama di tepi ranjang, matanya masih basah. Semua keluhan yang ia gumamkan barusan berputar di kepalanya, membuat dadanya sesak. Ia merasa seperti terjebak dalam lingkaran kewajiban yang tak ada ujungnya.

Dengan tangan gemetar, ia teringat bahwa sudah beberapa minggu ia tidak haid. Rasa penasaran bercampur takut membuatnya bangkit dan menuju kamar mandi. Di sana, ia membuka laci kecil dan menemukan satu-satunya tespek yang tersisa.

Tangannya bergetar saat membuka bungkusnya. Ia menatap alat itu sejenak, seolah berharap jawaban yang akan muncul bisa mengubah segalanya. Setelah beberapa menit, garis samar mulai terlihat. Lalu perlahan, jelas: dua garis merah.

Neysha terdiam. Air matanya jatuh tanpa suara.

“Ya Tuhan… aku hamil?” bisiknya lirih.

Rasa tak percaya menyelimuti dirinya. Bukannya bahagia, justru ketakutan yang muncul. Bagaimana mungkin ia bisa membesarkan anak dalam kondisi rumah tangga yang rapuh, dengan suami yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri?

Ia duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut, mencoba menenangkan diri. Hatinya hancur, tapi ada suara kecil dalam dirinya yang berbisik: “Aku harus kuat. Aku harus bertahan, bukan untuk Ary, tapi untuk diriku… dan untuk anak ini.”

Malam itu, Neysha menatap bayangan wajahnya di cermin kamar mandi. Wajah lelah, mata sembab, tapi ada secercah tekad baru. Ia tahu hidupnya akan berubah drastis. Penyesalannya terlambat, kini Ney harus benar-benar bertanggung jawab dengan calon buah hatinya, padahal sebelumnya ia memiliki niatan untuk menunda momongan karena Ary belum bisa menjadi sosok suami yang baik untuknya, masalahan nafkah dan tanggung jawab saja tidak beres bagaimana nanti jika harus menjadi orang tua.

Dari segi finansial saja lemah, kemampuan agama apa lagi, sejak menikah semua kedok terbongkar, Ary yang dulunya menampilkan citra religius ternyata salatnya belum lima waktu, impian Ney memiliki keluarga kecil yang sakinah, mawadah, warohmah pun pupus setelah mengetahui tabiat asli dari suaminya yang ternyata tidak agamis.

Pagi itu, Ney membangunkan Ary yang masih tidur, hatinya berdebar, rasa takut bercampur dengan tekad yang sudah ia tanam sejak melihat dua garis merah di tespek semalam. Ia duduk di ruang tamu, wajahnya pucat namun matanya menyimpan keberanian.

“Lihat ini. Aku hamil.”

Ary terdiam, matanya melebar. Sejenak ia tampak bingung, lalu tersenyum kaku.

Lihat selengkapnya