Rumah Tangga Tanpa Iman

Gabriella Gunatyas
Chapter #9

Hidup dan Kehidupan Baru

Waktu berlalu begitu cepat, kini usia kandungan Ney sudah memasuki sembilan bulan, siapa sangka gaji yang selama ini kurang-kurang membuat Ney lupa mencicil untuk membeli perlengkapan bayi. Ia juga tidak mendapatkan bantuan dari siapa pun terkait dengan persiapan lahiran. Suatu malam saat dirinya mulai susah tidur karena pergerakan bayi yang semakin kencang, Ney mencoba mengalihkan dengan iseng membuka marketplace, jarinya menekan tanda chek out pada set baju newborn dengan harga Rp250 ribu, bukan dibayar chas,saat itu Ney nekat membelinya dengan cicilan atau pay later, sebab kurang dari satu bulan ini bayi Ney mungkin akan lahir. 

Waktu terus berjalan, Neysha semakin dekat dengan hari persalinan. Kandungannya yang sudah sembilan bulan membuat tubuhnya cepat lelah, namun ia tetap memaksakan diri bekerja hingga H-4 sebelum melahirkan. Setiap minggu ia harus melakukan kontrol rutin ke dokter, dengan biaya yang semakin menekan tabungannya.

Hari-hari menjelang persalinan terasa semakin berat. Neysha harus menahan mual, sakit pinggang, dan rasa cemas karena tidak ada bantuan dari keluarga maupun suami. Setiap kali ia pulang dari kontrol, ia menghitung sisa uang di dompetnya, berharap cukup untuk biaya persalinan nanti. Namun di balik semua kesulitan, ada tekad yang tak tergoyahkan: ia ingin bayinya lahir dengan selamat, meski harus menanggung semuanya seorang diri.

Malam ini Ney harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, Malam itu Neysha merasakan perutnya semakin kencang, napasnya mulai pendek, dan rasa gelisah tak bisa ditahan. Dengan langkah pelan ia bersiap menuju rumah sakit untuk pemeriksaan kandungan. Jaket tipis ia kenakan, meski tubuhnya terasa berat. Di dalam hati, Neysha berdoa agar bayinya baik-baik saja.

Sesampainya di rumah sakit, ia duduk di ruang tunggu dengan wajah pucat. Lampu putih ruangan membuat suasana semakin dingin. Ketika namanya dipanggil, Neysha masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter menyambut dengan senyum hangat, lalu mulai memeriksa detak jantung bayi dan kondisi kandungan.

“Bu Neysha, usia kandungan sudah sembilan bulan. Bayi sehat, tapi ibu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja. Persiapan lahiran juga harus segera dilakukan,” kata dokter dengan nada serius.

Neysha hanya mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia tahu kata-kata dokter benar, tapi kondisi keuangan membuatnya tetap harus bertahan. Malam itu, setelah pemeriksaan selesai, Neysha duduk sebentar di bangku luar rumah sakit. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa rasa campur aduk antara cemas dan harapan.

“Bu, mungkin ini akan maju dari HPL yang sudah saya bilang sebelumnya, di awal kan saya bilang kemungkinan lahir tanggal 24, tapi bisa saja besok, atau minggu depan, jadi lebih diperhatikan lagi ya Bu, tapi ini saya lihat plasentanya ada dibawah dan kemungkinan menutup jalan lahir. Kita jadwalkan untuk tindakan di tanggal 17 saja ya, tapi kalau sebelum tanggal 17 Ibu ada flek langsung ke rumah sakit, ke UGD ya,” ucap sang Dokter.

Mendengar ucapan sang dokter yang mengatakan Ney sulit untuk melakukan persalinan secara normal, Ney pun mulai mengurus segala persiapan untuk melakukan persalinan dengan metode operasi caesar. 

Namun siang ini perut Ney mulai terasa kencang dan sedikit nyeri, namun hal itu tak lagi dirasakan, Ney fokus bekerja demi bisa segera cuti. Rasa sakit itu pun ditahannya sampai malam hari hingga ia mulai menceritakan kondisinya dengans salah satu team yang masih lembur.

“Ka, kamu dulu tuh lahiran normal kan?” 

“Iya Ney, kontraksi hampir seharian sampe lemes aku tuh, aku gimana bisa normal juga kan?”

“Harusnya sih bisa, cuma kemarin kontrol katanya plasenta previa, jadi dijadwalkan Sc tanggal 17. Bayangin segabut apa aku nanti lahiran tanggal 17 tapi tanggal 1 udah cuti. Btw kontraksi itu rasanya gimana sih?”

“Ya gitu, kayak mau haid, nyeri, susah ah jelasinnya.”

“Wait, berarti aku dari tadi kontraksi dong? Sama persis rasanya, makannya aku seharian ini diem karena sakit.”

Lihat selengkapnya