Rumah Tangga Tanpa Iman

Gabriella Gunatyas
Chapter #10

Lahir

Jam menunjukan pukul delapan pagi, Neysha yang sejak semalam tak bisa tidur pun mulai sarapan dengan makan tiga butir telur rebus, dua biji kurma, dan juga segala air. Makanan itu sekaligus menjadi makanan terakhir yang dikonsumsinya hrai ini, sebab satu jam lagi ia harus mulai puasa. Sejak semalam Neysha tak pulang ke rumah, ia dan Ary bermalam di rumah orang tua Ary yang lebih dekat dengan rumah sakit. Setelah sarapan Ney pun mandi dan segera mengurus rujukan ke puskesmas bersama Ary.

Setelah rapi, daster yang dipakai Ney pun tiba-tiba basah. Risih dengan hal itu, Ney pun berniat meminjam celana panjang Ary, sayangnya Ary tak mau meminjamkannya pada Ney dan menyerahkan satu lembar sarung untuk menutupi dasternya yang basah. Tak banyak bercakap Ney pun langsung membonceng Ary sambil terus berdzikir. Siapa sangka proses Ney meminta rujukan di klinik pun tak mudah, di mana ia langsung ditolak mentah mentah oleh petugas dengan alasan administrasi.

"Mau melahirkan hari ini? Baru minta rujukan?" tanya bidan yang bertugas dengan nada ketus.

Ary pun ikut memperkeruh suasana saat ia mengucapkan kalimat dokter kandungan yang menyebut Neysha masih mungkin melakukan persalinan normal tadi malam.

"Kata dokter nanti jam tiga sore operasi, udah pendarahan dari kemarin, bahkan kemarin dokter bilang mungkin bayinya bisa lahir malam ini Bu, tapi sampe sekarang belum lahir jadi harus di operasi."

"Masih bisa lahir normal kan? Ini HPL juga masih lama tanggal 24," kata bidan sambil melihat catatan di buku pink Neysha.

"Tunggu aja Mbak, ini kan juga anak pertama, biasanya persalinan anak pertama memang lama," tambah sang bidan.

Mendengar ucapan itu Ney pun kaget sekaligus takut, feeling seorang ibu tak mungkin salah, ia sangat khawatir dengan kondisi janinnya saat itu.

"Ya sudah kalau tetap mau lahiran hari ini normal saja, kita rujuk ke klinik sebelah, di sana bisa persalinan normal," kata bidan itu.

Keluar dari klinik itu dan berniat pindah ke klinik rujukan, hati Neysha semakin tak tenang, dalam perjalanan ia pun sudah pasrah dengan kondisi ini.

"Ya Allah, sesusah ini cuma mau lahiran aja, kenapa sih dia nggak mau ngeluarin uang pribadinya biar aku dan bayiku cepet ditangani. Ya Allah apa pun yang terjadi hari ini, selamatkan anakku, karena banyak yang menunggu kelahirannya," ujar Ney dalam hati.

Sempat bingung arah, Ney dan Ary pun tiba di klinik rujukan dari bidan tadi. Saat berdiri di pintu masuk, seorang petugas telah menghampiri mereka dan menawarkan agar Ney menggunakan kursi roda, namun tawaran dari petugas itu pun ditolak oleh Ney, karena bidan sebelumnya mengatakan Ney masih mungkin lahiran normal dalam pikiran Ney dirinya harus banyak bergerak supaya mempercepat proses pembukaan.

Ternyata dari pintu masuk, ruangan periksa untuk ibu dan anak di klinik itu cukup jauh, Ney berjalan pelan-pelan memasuki ruangan. Situasi di ruangan yang awalnya hening mendadak heboh setelah Neysha datang.

Lihat selengkapnya