Sore itu, dokter memeriksa kondisi Neysha. Semua hasil pemeriksaannya sangat baik, karena menggunakan fasilitas kesehatan yang dijaminkan oleh pemerintah Neysha sudah diperkenankan untuk pulang setelah tiga hari menjalani rawat inap. Meski saat itu Ney belum bisa berjalan tanpa bantuan, hal itu bukan menjadi alasan untuk Ney bisa berlama-lama di rumah sakit. Sayangnya kondisi Hilya belum syabil hingga harus menjalani rawat inap di rumah sakit.
Sore ini pukul tiga, terhitung Hilya lahir sudah tiga kali 24 jam, cadangan makanan yang ada di lambung bayi kecil itu pun sudah habis. Sebelum pulan perawat meminta Ney untuk berpamitan ke bayi kecilnya, sore itu Ney pun pasrah jika ASI-nya belum juga keluar.
“Ibu, karena sampai saat ini ASI-nya belum keluar, jadi adik dikasih sufor dulu ya, pihak rumah sakit tidak menyediakan sufor, Ibu bisa beli di apotek, karena ini berat badannya bagus, susu merk ini paling sering direkomendasikan. Ibu tetap rileks ya, di rumah berusaha dipumping terus, nanti kalau ASI-nya keluar jam berapa pun diantar ke sini untuk adiknya, nanti ASI-nya ditaruh di kantong ASI ditaruh di cooler bag berisi ice gel, semangat ya Ibu.
Sambil memandangi putri kecilnya, Ney melangkah keluar dari ruang perawatan bayi.
“Ibu, tenang saja, adik di sini dipantau tenaga medis selama 24 jam, InsyaAllah aman,” sambung perawat tadi.
Karena jadwal pulang dadakan, Ayah tidak bisa menjemput Neysha di rumah sakit, tapi sore itu Iu menyusul sesaat sebelum Ney pulang. Di momen itu Ney dan Ary bagi tugas, di mana Ary bermalam di rumah ibunya agar dekat dengan rumah sakit untuk menjaga Hilya, sementara Ney pulang ke rumah bersama Ibu untuk memulihkan kondisinya.
Sore itu Ney dan Ibu pulang ke rumah menggunakan taksi online yang dipesan Ary, mirisnya mereka mendapatkan driver yang ketus. Saat Ney berjalan ke arah mobil secara pelan-pelan sambil dipapah Ibunya, sang driver sudah marah-marah. Tiba di dalam mobil Ney dan Ibu pun disambut ketus si pengemudi. Tak tanggung-tanggung, pengemudi taksi online itu pun membawa mobil itu secara ugal-ugalan. Ney yang baru saja operasi pun dibuat kesakitan dengan ulah sang driver. Selama perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit itu, ibu hanya bisa menahan tangis melihat putrinya kesakitan ulah sang driver taksi.
“Saya ini itung-itung nolong orang sakit,” umpat sang driver selama perjalanan.
Sebelum turun dari mobil Ibu menyerahkan uang pecahan Rp100 ribu dua lembar kepada sang driver, tanpa menanyakan argo mereka karena tadi dipesan melalui HP Ary. Melihat dua lembar uang kertas itu sikap sang driver mendadak ramah, sambil mengucap terima kasih dan membantu menurunkan barang-barang bawaan mereka.