Tiga bulan waktu yang diberikan perusahaan untuk Neysha cuti melahirkan sudah selesai, pekan ini ia akan kembali bekerja sebagai karyawan lagi. Segala keperluan, alat-alat pumping pun sudah disiapkan oleh Neysha. DI minggu pertama Ney masuk kerja, Hilya diasuh oleh ibu Neysha, namun setelah ia berusia empat bulan, Hilya akan diasuh oleh, Mama Ita, tetangga rumah Ney yang sudah membantu keluarga mereka sejak dua minggu Hilya lahir.
Hari pertama kembali bekerja membuat Ney harus banyak beradaptasi soal aturan baru di kantornya, di sela-sela pekerjaannya, sambil menatap layar monitor Ney juga menyempatkan untuk pumping ASI untuk anaknya. Sesekali Ney berkomunikasi dengan Mama Ita yang yang mengasuh Hilya untuk memastikan kondisi anaknya.
Di jam istirahat pun Ney menyempatkan waktu untuk pulang mengantar ASI perahnya untuk sang anak tercinta, Ney lebih memilih waktu istirahatnya digunakan untuk pulang ke rumah yang jaraknya 30 menit dari kantor agar nutrisi Hilya tetap terjamin.
Di kantor, rekan-rekan kerja mulai menyadari perubahan pada diri Neysha. Ia tampak lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih bersemangat meski sering terlihat lelah. Atasan pun memberi sedikit kelonggaran, memahami bahwa Neysha sedang menjalani fase penting sebagai ibu baru. Namun, tetap saja ada aturan dan target yang harus ia penuhi, membuat Neysha harus pintar mengatur waktu dan tenaga.
Malam hari, ketika semua kesibukan mereda, Neysha sering duduk di samping Hilya yang tertidur pulas. Ia menatap wajah mungil itu dengan rasa haru, seolah berkata dalam hati:
“Aku akan terus berjuang, demi kamu.”
Ney pun teringat momen di mana ia pernah merasa takut untuk menjadi seorang ibu, selain masalah finansial Ney juga takut soal pertanggungjawabannya di akhirat kelak.Menjadi orang tua itu bukan hanya bertugas memberi makan, namun juga mendidik dan mencukupi kebutuhan baik secara lahir mau pun batin. Awalnya Ney memang ingin menunda memiliki momongan karena belum stabil semuanya, namun Ary bersikukuh ingin segera memiliki momongan di tengah kesulitan ekonomi keluarga.
“Sayang, Mama sudah punya kamu sekarang, Mama harus tanggung jawab, mengusahakan semuanya terbaik untuk kamu, maaf ya nak, kamu tidak seberuntung Mama, Mama dari kecil ditungguin terus sama Titi, tapi Hilya harus ditinggal mama kerja sejak usia 3 bulan, maaf ya nak,” ucapnya sambil mengecup tangan kecil ini.
Air matanya jatuh perlahan, membasahi tangan kecil Hilya. Neysha berbisik lirih, seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri: