Rumah Tangga Tanpa Iman

Gabriella Gunatyas
Chapter #14

Jengah

Selama ini Neysha hidup seperti robot yang harus menyelesaikan berbagai pekerjaan setiap harinya, selain bertanggung jawab mengurus anak, mengurus rumah, ia juga bertanggung jawab sebagai karyawan. Berangkat kerja pagi-pagi buta dengan kondisi mengantuk berat karena menjaga Hilya yang semalaman minta digendong, menyiapkan MPASI sampai larut malam, membereskan rumah yang berantakan. Tanpa ampun pagi ini Ney harus bertanggung jawab sebagai pekerja yang tidak boleh salah dalam pekerjaannya.

Kondisi itu terus berulang setiap harinya, pun juga saat pulang kerja, masih menggunakan baju kerja ia langsung ke dapur untuk cuci piring, membersihkan piring bekas makan Ary lengkap dengan sisa makanan yang membusuk di wastafel. Setelah dapur bersih, ia mulai menyiapkan MPASI, memasak menu yang akan dimakan anaknya esok hari, lengkap dengan proses pasteurisasi singkat agar makanan Hilya tetap higienis. Belum selesai, Ney juga harus mencuci dan mensteril botol susu dan alat pumpingnya seorang diri. Setelah semuanya selesai, biasanya di pukul 12 malam, Ney baru mandi dan bersiap tidur, namun sata Ney mencoba untuk istirahat bayi kecil pun pun ingin tidur dalam gendongan Neysha, hal itu pun terus berulang setiap harinya.

Lelah yang tak terungkap itu pun menjadi tumpukan emosi di dalam diri Ney, bahkan dia juga masih harus memikirkan soal gajinya yang harus sampai ke bulan depan tanpa kurang sedikitpun, Memikirkan uang listrik, air, makan untuk keluarga, uang pijat dan imunisasi Hilya. Rasanya hampir gila menghadapi situasi ini. Tak jarang Neysha harus meminjam uang ke teman baiknya, Una yang ia kenal semasa kuliah.

“Gila, aku tiap hari kerja rasanya nggak dapet apa-apa, malah banyak utang, beli kebutuhanku aja nggak bisa, aku rasanya seperti babu di rumahku sendiri,” umpatnya dalam hati.

Hari-hari Neysha semakin terasa seperti lingkaran tanpa ujung. Ia bangun, bekerja, mengurus rumah, mengurus anak, lalu kembali bekerja lagi. Semua berjalan seperti mesin yang dipaksa terus berputar tanpa henti. Namun di balik rutinitas itu, ada luka yang perlahan menggerogoti hatinya.

Suatu malam, setelah Hilya akhirnya tertidur di gendongan, Neysha duduk di lantai ruang tamu dengan tubuh lunglai. Lampu redup membuat bayangan wajahnya tampak semakin lelah. Ia menatap jemarinya yang pecah-pecah karena terlalu sering bergelut dengan sabun dan air. Air mata yang ditahannya sejak siang pun akhirnya jatuh.

“Aku nggak bisa terus begini… aku bukan robot,” bisiknya lirih.

Di saat itulah pesan dari Una masuk ke ponselnya.

"Ney, kalau butuh apa-apa bilang ya. Jangan dipendam sendiri. Aku tahu kamu kuat, tapi kamu juga manusia."

Pesan singkat itu membuat Neysha terdiam lama. Ada rasa hangat yang menyusup di balik kelelahan. Ia sadar, selama ini ia terlalu sering menanggung semuanya sendiri, seolah takut dianggap lemah. Padahal, menerima bantuan bukan berarti kalah.

Konflik rumah tangga Neysha dan Ary semakin tajam seiring berjalannya waktu. Rutinitas Neysha yang melelahkan membuatnya semakin sulit menahan emosi. Ia merasa bukan hanya kehilangan kebebasan, tapi juga kehilangan dirinya sendiri.

Suatu malam, setelah selesai mensterilkan botol susu dan memastikan Hilya tertidur, Neysha duduk di ruang tamu dengan wajah penuh keletihan. Ary yang duduk di depan TV sambil bermain game pun menjadi sasaran amukan Neysha.

Lihat selengkapnya