Rumah Tangga Tanpa Iman

Gabriella Gunatyas
Chapter #15

Muak

Hari demi hari Neysha masih mencoba memaklumi tingkah Ary yang membuatnya muak, sikapnya yang arogan yang kerap merendahkan Ney, sama sekali tidak disiplin, kata-katanya yang menyakitkan, dan tidak satu pun ada dalam dirinya cerminan sikap seorang suami. Ney yang hidup seperti robot perlahan mulai tak bisa mengendalikan emosinya, ia lebih sering kelepasan emosi saat tubuhnya lelah, dan pikirannya pening karena keuangan rumah tangga yang seolah-olah dibebankan semua kepada dirinya. Di tengah lelahnya bekerja, mengurus anak, mengurus rumah, ia masih mencoba mencari pekerjaan sampingan demi bisa mendapatkan uang tambahan. Namun sayangnya Allah belum meridhoi Ney untuk memiliki pekerjaan sampingan.

Tubuhnya kini mulai kelelahan, sulit mengatur waktu hingga membuat Ney tersadar banyak ibadah yang dulunya bisa ia kerjakan kini sudah jarang sekali dilakukan. Sebelum menikah, bahkan sebelum memiliki anak, Ney termasuk orang yang rajin menunaikan salat malam, salat dhuha, salat witir, dan memiliki hafalan Al Quran. Kini rasanya Ney jauh sekali dari Yang Maha Kuasa, salat wajib saja molor-molor, apalagi salat sunahnya, tentu sudah tidak kepegang.

Hatinya bergetar. Ia merasa jauh dari Allah, jauh dari sumber ketenangan yang dulu selalu menuntunnya. Neysha menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Ya Allah… aku rindu dekat dengan-Mu. Aku rindu tenang dalam sujudku. Tapi kenapa aku merasa semakin jauh? Apakah aku terlalu sibuk dengan dunia hingga melupakan-Mu?”

Malam itu, Neysha berdoa dengan suara lirih. Ia tahu, hanya Allah yang bisa menguatkan langkahnya. Namun di dalam hatinya, ia juga sadar: jika Ary tak berubah, jika rumah tangga ini terus berjalan dengan beban sepihak, maka dirinya bisa hancur perlahan.

Setelah menyadari betapa jauhnya ia dari Allah, Neysha mulai menata ulang langkahnya. Ia tahu bahwa hanya dengan kembali mendekat kepada Sang Pencipta, hatinya bisa kembali tenang.

Hari-hari berikutnya, meski tubuhnya masih lelah, Neysha mencoba bangun lebih pagi. Ia memaksa diri untuk menunaikan salat Subuh tepat waktu, meski kadang harus melawan kantuk yang berat. Dari sana, perlahan ia mulai menambahkan salat dhuha, meski hanya dua rakaat, sebagai tanda kerinduannya untuk kembali beribadah.

Di malam hari, Neysha mencoba kembali menunaikan salat tahajud. Tidak setiap malam ia kuat, namun ketika berhasil bangun, air matanya selalu jatuh dalam sujud panjang. Ia merasakan kehangatan yang dulu sempat hilang, seolah Allah sedang memeluknya kembali.

Selain itu, Neysha mulai membuka mushaf Al-Qur’an yang sudah lama tertutup. Ia membaca perlahan, mengulang ayat-ayat yang pernah ia hafal, meski hafalannya kini banyak yang hilang. Namun ia tidak menyerah, karena baginya setiap huruf yang ia baca adalah jalan pulang menuju Allah.

“Ya Rabb, aku mungkin lelah dengan dunia. Tapi aku tidak ingin lelah mencintai-Mu. Bimbing aku agar tetap istiqamah, meski langkahku sering goyah,” bisiknya dalam doa.

Usaha yang dilakukan Ney tampaknya tak semulus itu, di mana kesibukannya sebagai seorang ibu, dan karyawan membuatnya tidak bisa selalu menunaikan ibadah sunah. Malam itu, Neysha benar-benar pecah dalam tangis. Ia teringat masa-masa sebelum menikah, ketika setiap Jumat sore selepas Ashar ia selalu berdoa dengan penuh harap: meminta jodoh yang bisa membimbingnya dalam agama, yang bisa menuntunnya semakin dekat kepada Allah. Namun kenyataan yang ia jalani sekarang terasa begitu jauh dari doa-doa itu.

Lihat selengkapnya