Istiqomah memang hal paling berat untuk Neysha saat ini, di tengah rumah tangga yang tak berjalan sesuai harapannya, Ney sempat berpikiran untuk pindah keyakinan. Meski selama ini Ney sudah berusaha membangun kembali ibadah yang pernah ia jalani seperti saat ia meminta jodoh, namun gejolak hati Ney untuk kembali ke keyakinan sebelumnya cukup kuat, kali ini ia mulai berpikir ulang menjalani rumah tangga tanpa iman meski satu agama atau memilih berpindah keyakinan.
Keinginan itu sempat diungkap Neysha pada sahabat dekatnya, setelah hal itu berputar di kepala Neysha berbulan-bulan, ia menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil langkah, tidak gegabah. Berbulan-bulan pikiran itu berputar di kepalanya. Namun perlahan, Neysha mulai menemukan ketenangan kecil dalam doa. Ia menyadari bahwa iman bukan sekadar ritual, melainkan pondasi yang membuatnya tetap berdiri meski rumah tangganya goyah.
“Ya Allah, jika aku goyah, kuatkan aku. Jangan biarkan aku tersesat hanya karena luka yang sementara,” bisiknya dalam sujud panjang.
Setelah berbulan-bulan dilanda kegelisahan, Neysha akhirnya menemukan keberanian untuk memperdalam pencarian iman dan keyakinannya. Ia mulai menyadari bahwa jalan yang ditempuh bukan sekadar mencari pelarian dari luka rumah tangga, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan kembali dirinya.
Setiap pagi, ia membiasakan diri membuka mushaf, membaca ayat-ayat dengan penuh penghayatan. Malam harinya, ia menuliskan catatan kecil tentang makna sabar dan tawakal, seolah sedang berdialog dengan hatinya sendiri.
“Di kehidupan yang hanya satu kali ini, masa iya aku harus kalah dalam dua babak sekaligus?” Neysha bergumam lirih, matanya menatap kosong ke arah jendela. Luka demi luka membuatnya semakin sadar bahwa perjalanan hidup tidak selalu sesuai harapan.
Ia teringat masa lalu, ketika orang tuanya menikahkan dirinya dengan Ary dengan harapan besar: agar ia mendapat bimbingan agama. Namun kenyataan berkata lain. Ary yang sejak kecil sudah memeluk agama itu ternyata tidak mampu mengamalkannya dengan baik.
“Dulu aku nggak dapet bimbingan agama dari Ayah dan Ibu karena belum memeluk agama ini. Sekarang, orang yang seharusnya jadi penuntunku justru membuatku semakin jauh. Apa aku harus menyerah begitu saja?”
Meski hatinya masih sering goyah, Neysha mulai merasakan ketenangan kecil. Ia sadar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan, justru ujian ini adalah cara agar ia semakin bergantung kepada-Nya.
“Kalau aku kalah dalam rumah tangga, jangan sampai aku kalah dalam iman. Karena hanya iman yang bisa membuatku tetap berdiri,” bisiknya sambil menutup mushaf dengan air mata yang jatuh perlahan.
Di tengah keheningan malam itu Ney menatap seisi rumah yang masih berantakan, satu persatu barang yang berserakan di ruangan itu ia kumpulkan satu persatu, lelah setelah seharian bekerja dan mengurus rumah pun masih dirasakannya. Melihat pakaiannya lusuh, wajahnya kusam, tapi ada sedikit iman di dalam hatinya.
“Pernikahan yang sekacau ini nggak buat aku murtad aja aku sudah sangat hebat.”