Neysha mulai menemukan ritme hidupnya sendiri . Sikap cuek dan bodo amat Neysha memang tidak terlalu berpengaruh pada Ary, tapi ke Ney sendiri sikap itu cukup membuatnya waras. Tak statusnya secara hukum memang masih istri, tapi sekarang Ney bahkan sudah tak lagi menganggap Ary sebagai suaminya meski mereka masih tinggal dalam satu rumah. Sekarang ia lebih sering melakukan apapun sesuai keinginannya dengan catatan tidak menyakiti Hilya.
Sekarang ia sibuk dengan hobinya memasak, baking, menulis, mempercantik diri, semua itu dilakukan Neysha demi dirinya sendiri, bukan untuk pujian dari orang lain, sekarang dia juga lebih vokal dan jarang memendam, seperti belum lama ini dia sempat terlibat cekcok kecil dengan salah seorang keluarga yang memintanya untuk tambah anak.
“Kok gendutan, kayak isi lagi,” ujar seorang keluarga di sebuah acara.
“Gendutan aja, nggak hamil,” jawab Ney ketus.
Sambil menyendok makanan di depannya, Ney tak sedikit pun melirik ke arah tante yang mengiranya sedang hamil.
“Nambah lagi dong, masa anaknya cuma satu,” katanya lagi.
“Satu aja cukup,” kalimat itu keluar dari mulut Ney dengan raut wajah yang ketus.
“Baru umur 28 tahun, nanti pasti nyesel, saya aja yang udah umur 40 masih mau punya anak, jadi anak tunggal itu nggak enak lho, nggak kasihan sama anaknya?”
Ney pun mulai sinis merespons ucapan itu, “Nggak apa-apa anak tunggal, semua harta saya biar buat dia semua, nggak usah dibagi-bagi. Kata siapa anak tunggal susah? Ibu saya dua bersaudara, tapi pas ibu saya susah ada nggak saudaranya bantuin? Di jaman sekarang ini yang penting berbuat baik aja, ada anak nggak ada anak itu urusan Tuhan, banyak kok orang yang punya anak masa tuanya dibuang sama anaknya sendiri.”
“Oh ya saya mau kok punya anak, enam lagi pun ayook, syaratnya cuam satu, GANTI SUAMI!” tembaknya lalu pergi meninggalkan sosok itu.
Malam itu, setelah pulang dari acara itu, Neysha duduk di kamarnya sambil menatap Hilya yang tertidur pulas. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Aku harus kuat demi kamu, Nak. Aku nggak akan biarkan siapapun meremehkan kita. Maaf ya nak hidupmu tidak seberuntung Mama, orang tua Mama yang masih terus saling mencintai hingga saat ini saja kamu sudah kalah, Mama memang salah pilih suami, dia bukan suami seperti yang Mama harapkan, namun dia Ayah yang baik untuk kamu.”