Di sudut sepi, taman rumahnya Neysha mulia membuka jurnal kecil berwarna coklat miliknya, halaman demi halaman di buka hingga sampai kepada lembaran kertas kosong, jarinya meraih pena yang tersemat di ujung buku. Tak berlama-lama ia mulai menumpahkan isi hati yang selama tiga tahun ini ia pendam.
“Aku kira menikah anak membuatku jauh lebih taat dan mengenal Tuhanku, mencintai-Nya jauh lebih dalam karena aku telah memiliki imam..,
Laki-laki yang sejak lahir sudah beragama muslim ini, yang ‘katanya’ hadir dan dibesarkan dalam Agama Islam yang baik ini aku sangka benar-benar akan menjadi imam yang membersamaiku di sisa usiaku.
Tapi hari ini aku bener-benar lelah dengan sikapnya yang membuat aku membenci pernikahan ini, dulu aku pernah menangis dalam sujudku meminta seseorang untuk menemaniku meraih ridho, cinta, dan surga-Nya, dalam pikiranku sangat mengerikan apabila mati, menghadap Allah dalam keadaan membujang.
Andai kata-kata itu bisa ditarik, mati dalam keadaan membujang jauh lebih baik daripada mati perlahan karena salah pilih suami, mati perlahan karena rasa bersalah menghadirkan kehidupan yang tidak nyaman pada manusia kecil yang tak berdosa.
Kini semuanya telah terjadi, sebagai hamba, Ney hanya bisa melanjutkan hidup isi sesuai dengan takdir yang Allah berikan, apa pun yang akan terjadi ke depannya Ney siap, mampukan Ya Allah.
Ney hanya hamba, yang tak ingin mengulang kehidupan sengsara untuk ke dua kalinya, kehidupan dunia sudah susah, Ney tak mau kehidupan akhirat jauh lebih berat daripada dunia ini.
Tuhan, Ney hanya ingin menjalani peranan Ney sebagai hamba yang taat, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, kakak yang baik untuk adik Ney, ibu yang tidak dzalim kepada Hilya. Di titik ini ya Allah, aku sudah tak lagi minta dijadikan istri yang baik bagi Ary, selepas ini, berikan kebahagiaan untuk dia sekalipun tanpa Neysha. Ney sudah tak punya cara lagi ya Tuhan untuk bisa bertahan dengan laki-laki jahat yang menghina-hina Neysha, bahkan untuk disebut seorang imam dalam rumah tangga saja rasanya dia tak pantas.
Aku tak ingin durhaka ya Allah, duniaku cukup berat, jika memang pernikahan hanya terus menghadirkan dosa, berhenti sampai di sini tak apa, aku sudah ingin menyerah menjalani takdir sebagai istri, dinafkahi lahir batin tidak, dibimbing secara agam juga tidak, lalu ada faedahnya harus ada pernikahan ini?
Pertanggungjawaban sebagai wanita muslim itu sangatlah sulit, menjadi istri saleh yang selama ini aku usahakan ternyata sia-sia sampai muncul label istri durhaka, rasanya air mataku sudah kering untuk menangisi label itu, sabarku telah menjadi murka, di sisi lain aku juga hanya seorang manusia yang punya batas kesabaran, di sisi lain, aku juga anak perempuan yang dibesarkan mati-matian oleh perjuangan , keringat dan doa orang tua, rasanya tak adil ya Rabb, semua perjuangan itu dibalas hinaan oleh orang yang bertanggung jawab sesuai kapasitasnya sebagai imam rumah tangga saja tidak bisa.
Kenapa wanita disebut mayoritas penghuni neraka? Padahal di dunia ini banyak sekali wanita yang berusaha taat namun dibuat menjadi pembangkang oleh sikap suaminya sendiri.