Akhir pekan ini menjadi momen yang spesial untuk Neysha, kali ini ia akan bertemu dengan Eliza, teman lamanya. Berteman sejak duduk di bangku SMA, Ney dan Eliza masih berhubungan baik hingga saat ini. Meski hanya berkomunikasi lewat sambungan telepon, dan text yang terbilang tidak intens, Eliza menjadi salah satu tempat curhat Ney selain Faiza, banyak tentang kehidupan rumah tangga Ney yang diketahui oleh Liza. Bahkan beberapa tahun lalu, saat Hilya masih bayi, Ney pernah malam-malam datang ke rumah Eliza karena bertengkar hebat dengan Ary.
Di sudut cafe ini mereka berdua bertemu, kali ini Eliza membawa kabar bahagia sebab satu bulan lagi ia akan menikah dengan kekasihnya, Eliza pun meminta Ney dan Hilya hadir di hari bahagia itu sambil memberikan seragam keluarga berwarna pink.
“Ney, aku ingin kamu dan Hilya hadir di hari bahagia itu. Ini seragamnya, biar kita kompak,” ucap Eliza sambil menyerahkan bungkusan.
Neysha menatap kain pink itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru sekaligus lega, bahwa di tengah luka rumah tangganya, ia masih punya sahabat yang tulus berbagi kebahagiaan.
Di balik senyum yang ia berikan pada Eliza, Neysha merasakan kekuatan baru. Ia sadar, hidup tidak berhenti hanya karena luka rumah tangga. Ada sahabat, ada anak, ada pekerjaan, dan ada Allah yang selalu menuntun.
“Aku akan datang, Liz. Aku ingin Hilya melihat bahwa kebahagiaan itu nyata, meski jalannya berbeda,” kata Neysha dengan suara mantap.
Eliza menatap sahabatnya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu bertanya pelan, “Ney, kamu sekarang bahagiakan?” tanya Liza.
Neysha terdiam sejenak. Pertanyaan itu seperti mengetuk pintu hatinya yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Ia menatap cangkir matcha di depannya, uap hangatnya seolah mengingatkan pada perjalanan panjang yang ia lalui.
“Bahagia itu… bukan berarti hidupku sempurna, Liz. Aku masih punya luka, masih ada hal yang membuatku berat. Tapi aku punya Hilya, aku punya pekerjaan yang membuatku berdiri sendiri, dan aku punya Allah yang selalu mendengar doa-doaku. Itu sudah cukup untuk membuatku merasa tenang.”
Eliza menggenggam tangan Neysha, senyumnya lembut.
“Aku tahu kamu kuat, Ney. Aku lihat dari caramu bertahan, dari caramu mencintai Hilya. Kadang bahagia itu bukan soal siapa yang ada di samping kita, tapi bagaimana kita memilih untuk tetap berdiri. Ingat Ney, kamu berharga, kamu berhak bahagia atas dirimu sendiri. Kmu sudah hebat berjuang sampai di titik ini.”
Kepada Liza, Ney pun mengungkap apa yang terjadi dalam rumah tangganya selama satu tahun belakangan ini.